Langkah yang Menjaga Lereng, Jaro Midun: Perjuangan Menyelamatkan Datar Hanjuang Untuk Desa Cikahuripan

Sukabumi,- Kabut pagi belum sepenuhnya terangkat dari lereng Datar Hanjuang saat Jaro Midun, Kepala Desa Cikahuripan, menjejakkan kaki di jalur sempit yang memisahkan hutan lindung dari ancaman tangan-tangan tak bertanggung jawab. Di belakangnya, para staf desa dan kepala dusun menyusul perlahan, napas berat, kaki penuh lumpur, namun tekad tak goyah.

“Kita sebentar lagi nyampe, karena kita lagi kecapean, lagi nunggu rekan-rekan yang di bawah. Lagi naik, istirahat sebentar ya untuk menunggu rekan-rekan. Ternyata sangat luar biasa, kita pada saat ini lagi terus naik, lagi usaha, lagi berjuang,” ujar Jaro Midun, sambil menyeka peluh di dahi, matanya menatap jauh ke arah bukit yang mulai terbuka, 11 September 2025.

Perjalanan itu bukan sekadar inspeksi. Ia adalah simbol perlawanan terhadap penggarapan liar yang mengancam keseimbangan alam. Hutan lindung Datar Hanjuang, yang menjadi benteng alami bagi Desa Cikahuripan dari longsor dan banjir, mulai terkoyak oleh aktivitas tak berizin. Jika dibiarkan, bukan hanya pohon yang tumbang—tapi juga harapan warga di bawah lereng.

“Gak beda dengan perjuangan hidup. Jadi jika kita nikmat, berarti harus melakukan susah aja dulu. Seperti saat ini yang saya lakukan dengan para staf dan rekan-rekan KaDus. Yang mana perjalanan ini sangat menantang dan nanti akan indah pada waktunya, jika sudah sampai tujuan. Itu tempat yang datar, indah dan terlihat laut lepas. Yo, terima kasih,” lanjutnya, suara lirih namun penuh makna.

Di tengah semak dan akar yang menjulur, Jaro Midun tak hanya meninjau, ia menegur, mencatat, dan berencana memberi peringatan keras. Ia tahu, satu celah di hutan bisa menjadi awal bencana. Ia juga tahu, menjaga alam bukan tugas yang populer, tapi sangat mendesak.

Langkahnya hari itu adalah langkah seorang pemimpin yang tak hanya duduk di kantor, tapi turun ke tanah, menyentuh realitas, dan menantang ketidakpedulian. Di Datar Hanjuang, ia bukan hanya Jaro, tapi penjaga batas antara kehancuran dan harapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *