Aspirasi Warga Mengalir di Reses Loka Tresnajaya: Dari Desa Wisata hingga Lampu Jalan yang Tak Pernah Padam

BERITA, DPRD757 Dilihat

SUKABUMI – Suasana hangat dan penuh harapan mewarnai kegiatan reses ketiga tahun sidang 2025 yang dilaksanakan oleh Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi, Loka Tresnajaya, di Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Senin (22/9/2025). Warga dari berbagai kecamatan hadir menyampaikan aspirasi, mulai dari kebutuhan Penerangan Jalan Umum (PJU) hingga gagasan pengembangan desa wisata berbasis alam dan budaya.

“Hari ini peserta reses berasal dari empat atau lima kecamatan. Ada dari Kecamatan Cicurug, Cidahu, Parungkuda, dan Ciambar yang saya lihat hadir,” ujar Loka, legislator dari Fraksi Golkar.

Salah satu aspirasi menarik datang dari warga Desa Pasawahan, Kecamatan Cicurug, yang terinspirasi oleh konsep Lembur Pakuan di Subang. Mereka berharap kawasan mereka dapat dikembangkan menjadi desa wisata yang mengangkat potensi alam dan budaya lokal.

“Tadi sih yang disampaikan ingin membuat seperti Lembur Pakuan. Insya Allah saya akan membuat rencana untuk survei dan berkunjung langsung ke lokasi di sana. Sekali lagi karena kepariwisataan pun menjadi lingkup kerja saya di sana,” ungkap Loka, menunjukkan komitmennya untuk menindaklanjuti gagasan tersebut.

Di sisi lain, persoalan PJU menjadi sorotan warga Desa Babakanjaya, Kecamatan Parungkuda. Mereka mengeluhkan kondisi jalan lingkungan yang masih gelap dan mengajukan pemasangan lampu di titik-titik rawan. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah lampu PJU yang tetap menyala di siang hari tanpa sistem pengendali manual.

“Wah, ini kalau tidak diantisipasi oleh pemerintah, betul sekali tadi akan menyedot anggaran yang percuma gitu. Untuk sebagai awal nanti saya akan menginformasikan secara langsung ke Dinas Perhubungan mungkin,” kata Loka, merespons kekhawatiran warga terkait pemborosan anggaran akibat tagihan listrik yang tidak terkendali.

Tak hanya itu, warga juga menyoroti mahalnya tiket masuk ke kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, khususnya di pintu masuk Cidahu dan Cimalati. Menurut mereka, harga tiket saat ini terasa memberatkan bagi pengunjung lokal.

“Ada sebuah kondisi yang memang tiket yang diberlakukan hari ini terasa memberatkan untuk pengunjung. Walaupun saya tidak tahu mahal itu berapa, hari ini belum tahu,” ujar Loka, mencatat keluhan tersebut sebagai bahan evaluasi lebih lanjut.

Reses kali ini menjadi ruang terbuka bagi warga untuk menyuarakan harapan dan kegelisahan mereka. Loka Tresnajaya pun berjanji akan menindaklanjuti setiap aspirasi dengan langkah konkret sesuai bidang kerjanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *