Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29%: Mesin Pertumbuhan Kian Resilien

Kementerian51 Dilihat

Jakarta, 5 Agustus 2026 – Perekonomian Indonesia kembali menunjukkan ketangguhan. Pada triwulan II 2026, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,29 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 5,12 persen. Di tengah ketidakpastian global, capaian ini ditopang oleh investasi yang kuat, konsumsi rumah tangga yang meningkat, serta kebijakan pemerintah menjaga daya beli masyarakat.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah akan terus memperkuat mesin pertumbuhan ekonomi melalui sinergi kebijakan dan reformasi struktural. “Di tengah tantangan global yang masih tinggi, Pemerintah akan terus memperkuat mesin-mesin pertumbuhan ekonomi melalui sinergi kebijakan dan reformasi struktural guna menjaga momentum pertumbuhan yang lebih tinggi,” ujarnya.

Konsumsi Rumah Tangga Jadi Penopang

  • Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen (yoy), didukung gaji ke-13, program perlindungan sosial, subsidi, serta inflasi yang terkendali.
  • Aktivitas belanja meningkat, tercermin dari Mandiri Spending Index, penjualan listrik, kendaraan bermotor, dan konsumsi BBM.
  • Program prioritas pemerintah menciptakan lapangan kerja baru, memperkuat daya beli, dan menjaga permintaan domestik.

Belanja Pemerintah Ekspansif

  • Konsumsi pemerintah tumbuh 15,97 persen (yoy), mencerminkan belanja negara yang ekspansif.
  • Percepatan belanja barang dan pegawai menopang program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Desa Nelayan, dan Sekolah Rakyat.
  • Efek pengganda mendorong aktivitas usaha, konsumsi rumah tangga, dan penciptaan lapangan kerja.

Investasi dan Infrastruktur

  • Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,87 persen (yoy), ditopang belanja modal pemerintah dan investasi swasta.
  • Investasi bangunan naik 6,6 persen (yoy) seiring pembangunan jalan, irigasi, dan jaringan.
  • Investasi nonbangunan juga melonjak, kendaraan tumbuh 26,0 persen, peralatan lain 16,2 persen.
  • Realisasi investasi langsung naik 7,1 persen, dengan PMA meningkat 25,7 persen, mencerminkan kepercayaan investor.

Perdagangan Luar Negeri

  • Ekspor barang dan jasa tumbuh 4,13 persen (yoy), didorong produk CPO, batubara, dan hilirisasi nikel, tembaga, aluminium.
  • Impor barang dan jasa naik 8,82 persen (yoy), mencerminkan kebutuhan bahan baku dan barang modal untuk industri dalam negeri.

Sektor Penopang Pertumbuhan

  • Perdagangan tumbuh 6,39 persen (yoy), didorong penjualan kendaraan bermotor.
  • Konstruksi tumbuh 6,68 persen (yoy), sejalan percepatan belanja modal pemerintah.
  • Informasi dan Komunikasi tumbuh 6,97 persen (yoy), didukung perdagangan digital dan data center.
  • Industri Pengolahan Nonmigas tumbuh 5,32 persen (yoy), terutama makanan-minuman (6,51 persen) dan barang logam-elektronik (8,04 persen).
  • Transportasi dan Pergudangan tumbuh 5,65 persen (yoy), sementara Akomodasi dan Makan Minum melonjak 10,60 persen (yoy) berkat pariwisata dan program MBG.

Dampak ke Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan

  • Jumlah penduduk bekerja Mei 2026 mencapai 148,19 juta orang, naik 522 ribu dibanding Februari.
  • Tingkat Pengangguran Terbuka turun menjadi 4,65 persen.
  • Tingkat kemiskinan Maret 2026 menurun ke 8,07 persen, jumlah penduduk miskin berkurang menjadi 22,93 juta orang.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *