New Delhi, Matasosial.com – Suasana di pelataran Bharat Mandapam berubah hangat pada Sabtu 12 September 2026. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto tiba untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi KTT BRICS ke-18.
Yang menyambut bukan hanya protokoler dan karpet merah. Perdana Menteri India Narendra Modi sendiri yang turun langsung. Dan Modi mengakhiri sambutan itu dengan sebuah pelukan.
Pelukan itu berlangsung singkat. Namun maknanya panjang. Di hadapan lensa kamera dunia, dua pemimpin dari dua negara besar Asia itu menunjukkan kedekatan yang tidak dibuat-buat.
Pelukan Modi Jadi Pembuka KTT BRICS
Begitu pintu kendaraan kepresidenan terbuka, Modi sudah berdiri menunggu. Tidak ada jarak formal yang terlalu jauh. Prabowo turun dari mobil, lalu Modi langsung melangkah maju dan memeluk.
Momen itu menjadi pembuka rangkaian KTT BRICS 2026. Setelah berpelukan, keduanya berbincang sebentar. Kemudian tawa kecil terlihat. Lalu mereka berjalan bersama menuju sesi foto bersama para pemimpin negara.
Bagi banyak pengamat, pelukan itu bukan sekadar basa-basi diplomatik. Pelukan itu adalah simbol. Simbol bahwa hubungan Indonesia dan India sedang berada di titik paling erat dalam beberapa tahun terakhir.
Hubungan itu memang sudah ditempa sebelumnya. Pada awal Juli lalu, saat PM Modi berkunjung ke Jakarta, ia menyebut Prabowo sebagai sahabat sejati India. Selain itu, Modi juga menyampaikan kesan mendalam atas sambutan dan kehormatan yang ia terima selama berada di Indonesia.
Karena itu, ketika giliran India menjadi tuan rumah BRICS, Modi membalasnya dengan cara yang sama. Hangat, personal, dan penuh rasa hormat.
Pemimpin BRICS Bahas Tata Kelola Global
Setelah prosesi penyambutan, Prabowo bersama para pemimpin negara lain langsung masuk ke ruang pertemuan. Agenda pertama adalah sesi terbatas dengan tema Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism.
Tema itu India pilih sebagai Ketua BRICS 2026. Tujuannya jelas. Di tengah dunia yang terpecah, negara-negara besar harus duduk bersama dan memperkuat kerja sama multilateral.
Dalam pidato pembukaannya, PM Modi menyampaikan kegembiraannya atas kehadiran para pemimpin di New Delhi.
Saya sangat senang menyambut Anda semua di India. Kepemimpinan India di BRICS didasarkan pada pendekatan yang berpusat pada masyarakat dan mengutamakan kemanusiaan. Ketangguhan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan senantiasa menjadi prioritas kami, ujar Modi.
Kalimat itu menjadi penanda arah pembahasan. BRICS tidak ingin hanya menjadi klub ekonomi. BRICS ingin menjadi kekuatan yang menjawab masalah rakyat. Mulai dari pangan, energi, kesehatan, hingga teknologi.
Lebih lanjut, Prabowo hadir di forum itu membawa kepentingan Indonesia. Sebagai negara baru di BRICS, Indonesia ingin memastikan suaranya didengar. Terutama dalam isu-isu yang menyangkut negara berkembang.
RI dan India Perkuat Kerja Sama Bilateral
Kehadiran Prabowo di KTT BRICS ke-18 ini memang lebih dari sekadar menghadiri pertemuan. Ini adalah momentum. Momentum untuk memperkuat kerja sama dengan negara-negara anggota BRICS.
Dan secara khusus, momentum untuk mendorong kolaborasi dengan India. Dua negara dengan populasi besar. Dua negara dengan tantangan yang mirip. Pangan, kemiskinan, perubahan iklim, dan ketimpangan global.

Dari New Delhi, pesan yang ingin Indonesia bawa pulang sederhana. Indonesia tidak datang sebagai penonton. Indonesia datang sebagai pemain yang ingin berkontribusi.
Dalam konteks hubungan bilateral, Indonesia juga sudah memberi penghormatan jauh sebelumnya. Pada rangkaian kunjungan kenegaraan Modi ke Jakarta awal Juli lalu, Prabowo menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Republik Indonesia Adipurna kepada Modi.
Penganugerahan tersebut merupakan bentuk penghormatan serta penghargaan Indonesia atas peran Modi dalam memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan India.
Tanda kehormatan itu kini Modi balas dengan sambutan setara di tanah India. Bukan dengan medali, tapi dengan pelukan. Bukan dengan upacara, tapi dengan keakraban.
Dunia Soroti Keakraban Dua Pemimpin
Gambar pelukan Prabowo dan Modi langsung menyebar. Media India menuliskannya sebagai momen persahabatan. Media Indonesia melihatnya sebagai bukti diplomasi yang berhasil.
Di tengah forum sebesar BRICS yang membahas tata kelola global, hal-hal kecil seperti ini justru paling diingat publik. Karena politik bukan hanya soal perjanjian dan nota kesepahaman. Politik juga soal rasa saling percaya.
Dan rasa saling percaya itu terlihat jelas pada Sabtu 12 September 2026 di Bharat Mandapam. Ketika seorang Perdana Menteri memilih turun dari panggung protokolernya untuk memeluk seorang Presiden.
Dengan demikian, dari pelukan itu lahir harapan. Harapan bahwa kerja sama Indonesia dan India ke depan akan semakin konkret. Bukan hanya di atas kertas, tapi juga di lapangan. Untuk rakyat kedua negara.
