Rumah Baru Arya di Palabuhanratu: Ketika Bagong Mogok Mengubah Abu Menjadi Asa

BERITA32 Dilihat

Matasosial.com – Palabuhanratu, 8 Oktober 2026 – Angin sore mengusap Kampung Cibodas. Dinding bata baru berdiri kokoh di atas tanah yang dulu hitam oleh arang. Tawa balita Muhammad Arya (3,5) pecah di ambang pintu. Tiga bulan lalu, api merenggut ibunya, Elin (33). Api juga meninggalkan luka di tubuh mungilnya.

Kamis kemarin, kunci rumah itu berpindah tangan. Founder Bagong Mogok, Irjen Pol Asep Guntur Rahayu, menyerahkan langsung kunci hunian kepada keluarga. Momen itu menutup kisah panjang tentang polisi misterius yang merengkuh Arya di tengah duka.

Di balik peresmian itu, jejak kemanusiaan bergerak senyap. Komunitas sosial Bagong Mogok merajut harapan tanpa sorot kamera.

Kapolres Sukabumi di Barisan Relawan

Asep menuturkan denyut kerja Bagong Mogok di Sukabumi kini kian padu. Keterlibatan Kapolres Sukabumi AKBP Benny Cahyadi memperkuat langkah di lapangan. Kapolres menjadi bagian dari keluarga besar komunitas. Kehadiran itu menjadi jembatan respons cepat.

“Komunitas ini sebetulnya sudah berdiri lama, awalnya dari Cianjur. Kebetulan saat ini Pak Kapolres Sukabumi berdinas di sini dan ada di komunitas juga, jadi kegiatan di Kabupaten Sukabumi menjadi lebih intens,” ujar Asep di sela peresmian.

Makna Bagong Mogok sendiri lahir dari filosofi perlawanan. Asep menjelaskan semangat itu dengan lugas.

“Bagong mogok itu situasi di mana bagong atau babi buruan terpojok, di situlah dia akan melawan sekuat tenaga. Kami meminjam semangat itu: melawan sekuat tenaga untuk membantu masyarakat. Khususnya mereka yang kekurangan akses pendidikan, ekonomi, hingga yang tertimpa musibah. Ini murni kewajiban kemanusiaan kita untuk saling tolong-menolong,” ungkap Asep memaparkan.

Bagi warga Cibodas, kalimat itu menjelma nyata. Bukan sekadar kata. Relawan hadir ketika akses tertutup dan harapan nyaris padam.

Satekah Polah Ngabela Nu Susah

Ketua Umum Komunitas Sosial Bagong Mogok, AKBP (Purn) H. Hilman Muslim, menegaskan jati diri gerakan. Komunitas yang berakar di Tatar Sunda ini bergerak murni karena kepedulian.

“Gerakan kami murni aksi sosial kemanusiaan, tidak ada afiliasi politik atau kepentingan apa pun. Di mana ada masyarakat yang tertimpa musibah dan membutuhkan uluran tangan, sebisa mungkin kami hadir untuk meringankan beban mereka,” ungkap Hilman.

Nama Bagong Mogok memang menggelitik telinga. Namun di balik nama itu tersimpan pesan moral yang dalam. Hilman menyebut semboyan Sunda yang menjadi pegangan: satekah polah ngabela nu susah.

“Awalnya memang kalau mendengar namanya sedikit menggelitik, tidak lumrah. Tapi ini analogi dari babi hutan yang terpepet tanpa jalan lain, lalu nekat menerjang apa pun di depannya tanpa rasa takut. Semangat itulah yang kami pinjam: nekat dalam membantu masyarakat yang sedang kesusahan,” tuturnya.

Lebih jauh, Hilman mengajak relawan menundukkan hati. Lambang bagong menjadi cermin agar tidak jumawa saat membantu.

“Simbol ini pengingat agar kita tidak merasa paling baik. Kita ini manusia pada dasarnya bukan orang baik-baik. Hanya kebetulan saja saat ini aib kita belum dibuka oleh Tuhan. Kalau aib dibuka, kita mungkin jauh lebih hina dari binatang itu. Jadi kami ini bukan orang baik, kami hanya manusia yang sedang mencoba berbuat kebaikan,” tutur Hilman menambahkan.

Jejak Dari Atap Sekolah di Ciemas Hingga Jeddah

Sebelum rumah Arya, Bagong Mogok sudah meninggalkan jejak di Sukabumi. Relawan memperbaiki atap sekolah di Bihbul, Kecamatan Ciemas. Relawan juga merehabilitasi hunian korban kebakaran di Simpenan.

Gerakan swadaya ini lahir sejak 2015 di Cianjur. Kini jaringan meluas ke Jakarta, Jawa Tengah, Bali, Lampung, dan Riau. Bahkan relawan mendampingi advokasi pekerja migran di Jeddah, Arab Saudi. Semua pendanaan bertumpu pada iuran anggota dan donatur secara mandiri.

Malam Panjang di Lorong IGD

Kisah Arya berawal dari malam panjang awal Juli 2026. Di lorong IGD rumah sakit, Arya yang terluka terkatung belasan jam. Kepastian tindakan belum datang. Ayahnya kebingungan. Harapan menipis.

Di titik itulah tangan senyap itu datang. Relawan memindahkan perawatan Arya ke ruang VIP RSUD R. Syamsudin SH Kota Sukabumi. Relawan mencukupi popok dan susunya setiap hari. Relawan juga berikrar membangun kembali rumah dan menyiapkan modal usaha agar sang ayah tidak merantau jauh lagi.

Kini ikrar itu lunas. Tidak ada lagi abu dan ratapan. Di dalam rumah baru itu, Arya berlari kecil dengan tawa yang kembali utuh. Kisah ini mengingatkan kita bahwa kebaikan yang bekerja dalam senyap mampu memulihkan luka sedalam apa pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *