Jakarta, Senin 10 November 2025 — Di tengah lanskap ekonomi global yang dinamis, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tampil sebagai sosok yang tak hanya mengawal neraca negara, tetapi juga merancang arah gerak pembangunan nasional. Ia dikenal sebagai arsitek fiskal yang berpikir sistemik, menyatukan kebijakan anggaran dengan visi pemerataan dan daya saing. Dalam setiap pernyataannya, Purbaya tak sekadar menyampaikan angka, melainkan menyematkan strategi dan harapan kolektif.
Pernyataan terbarunya, disampaikan Kamis (6/11), menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2025 yang mencapai 5,04 persen (year on year/yoy) bukanlah capaian kebetulan. Menurutnya, angka tersebut mencerminkan efektivitas pengelolaan APBN yang diperkuat oleh koordinasi erat antara otoritas fiskal, moneter, dan sektor keuangan.
“APBN berperan menjaga daya beli masyarakat dan mendukung kinerja dunia usaha agar lebih berdaya saing terutama di tingkat global. Dukungan fiskal juga diberikan melalui penempatan Rp200 triliun kas negara secara prudent untuk memastikan likuiditas ekonomi memadai, termasuk dukungan nonfiskal untuk debottlenecking demi realisasi investasi lebih tinggi secara berkelanjutan,” ujar Purbaya.
Momentum pertumbuhan ini berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja sebesar 1,9 juta orang. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) pun menurun dari 4,91 persen di Agustus 2024 menjadi 4,85 persen pada Agustus 2025, dengan jumlah pengangguran turun 4 ribu orang menjadi 7,46 juta.
Dari sisi permintaan domestik, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,89 persen (yoy), didorong oleh mobilitas penduduk yang meningkat, pertumbuhan transaksi digital, dan dukungan kebijakan pemerintah. Konsumsi pemerintah juga menunjukkan performa kuat, tumbuh 5,49 persen, dengan belanja barang naik 19,3 persen dan belanja pegawai 9,0 persen—menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga daya beli dan mempercepat belanja strategis.
Investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,04 persen (yoy), mencerminkan keyakinan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi nasional dan stabilitas iklim usaha. Sementara itu, ekspor barang dan jasa riil melonjak 9,91 persen (yoy), ditopang oleh penguatan industri domestik, permintaan dari mitra dagang utama, dan daya saing produk ekspor Indonesia.
Sektor industri pengolahan juga menunjukkan pertumbuhan solid, terutama pada subsektor strategis berbasis hilirisasi. Pemerintah memperkuat dukungan melalui program stimulus Rp34,2 triliun dan delapan program akselerasi senilai Rp15,7 triliun di triwulan IV 2025. Peran Danantara dan Satgas P2SP menjadi instrumen penting dalam mengungkit kontribusi swasta dan mengurai hambatan investasi.
Dengan data terkini dan sinergi kebijakan yang terus dioptimalkan, pemerintah optimis target pertumbuhan ekonomi 5,2 persen untuk tahun 2025 akan tercapai.
“Ke depan, pemerintah terus mendorong agar mesin pertumbuhan ekonomi berjalan lebih cepat. Kebijakan fiskal, sektor keuangan, dan iklim investasi yang sehat akan terus disinergikan untuk menciptakan pertumbuhan tinggi. Tidak hanya tinggi, namun juga stabil dan dapat menciptakan pemerataan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan,” pungkas Purbaya.






