SUKABUMI, matasosial.com – 27 Agustus 2026 – Bagi sebagian besar masyarakat Sukabumi, terutama di wilayah pegunungan seperti, Cikakak, Cisolok, Cikidang, Kalapanunggal, dan Cicurug, air bersih berasal langsung dari gunung. Dari mata air, sungai kecil, hingga aliran yang ditampung ke bak dan pipa.
Air itu gratis. Air itu berkah. Tapi ada satu hal yang sering lupa: jika gunungnya rusak, airnya akan hilang.
Musim kemarau seperti sekarang jadi pengingat. Sumur di bawah mulai surut, tapi mata air di atas gunung yang hutannya masih rimbun masih bisa menetes. Sebaliknya, gunung yang gundul akan kering lebih cepat.
Kenapa Gunung dan Pohon Penting untuk Air
Gunung dengan hutan lebat ibarat spons raksasa.
1. Menyerap Air Hujan: Akar pohon menahan air hujan agar tidak langsung lari ke bawah. Air meresap ke tanah sedikit demi sedikit.
2. Menyimpan Cadangan: Tanah yang banyak humus dan akar bisa menyimpan air berbulan-bulan, lalu melepaskannya perlahan ke mata air.
3. Mencegah Bencana: Hutan menahan longsor dan banjir saat hujan deras. Tanpa pohon, air jadi lumpur yang merusak.
Kalau pohon ditebang sembarangan, tanah jadi padat. Air hujan langsung mengalir, membawa tanah, dan menyebabkan kekeringan saat kemarau.
7 Kewajiban Warga Pengguna Air Pegunungan
Agar anak cucu kita masih bisa minum dari mata air yang sama, ini yang wajib kita lakukan:
1. Jangan Tebang Pohon Sembarangan di Sekitar Mata Air
Zona 100 meter dari mata air adalah “zona suci”. Dilarang tebang, bakar, dan bangun. Biarkan tetap rimbun. Itu pabrik air kita.
2. Perbanyak Penanaman Pohon Penyerap Air
Tanam pohon seperti: pinus, sengon, bambu, alpukat, durian, dan nangka, Pohon Beringin (Ficus benjamina, Pohon Trembesi (Samanea saman), Pohon Bambu, Pohon Gayam (Inocarpus fagifer), Pohon Mahoni, Pohon Aren (Arenga pinnata), Pohon Sukun. Paling bagus untuk menahan air. 1 rumpun bambu bisa menyimpan ribuan liter air dalam tanah.
Ajak RT/RW buat “1 keluarga 10 pohon” setiap awal musim hujan.
3. Jangan Buang Sampah ke Sungai dan Mata Air
Sampah plastik menyumbat aliran. Kotoran mencemari. Jika hulu kotor, hilir akan sakit. Sediakan tempat sampah di kebun dan ladang.
4. Stop Buka Lahan dengan Cara Dibakar
Membakar hutan untuk ladang memang cepat. Tapi abunya hanyut, tanah jadi keras, dan daya serap air hilang. Lebih baik pakai sistem tumpang sari dan kompos.
5. Buat Sumur Resapan dan Lubang Biopori di Halaman
Air hujan dari atap jangan langsung dibuang ke jalan. Arahkan ke sumur resapan. Ini membantu “mengisi” kembali cadangan air tanah di gunung.
6. Rawat Bersama Sumber Mata Air
Bentuk kelompok “Penjaga Mata Air”. Jadwalkan kerja bakti 1 bulan sekali: bersihkan saluran, tanam pohon, dan cek pipa. Air bersih adalah hasil kerja bersama.
7. Edukasi Anak dan Tetangga
Ceritakan ke anak: “Air ini dari gunung. Gunung dijaga pohon. Pohon dijaga kita.” Jika 1 orang sadar, dia akan mengingatkan 10 orang lain.
Pesan untuk Kita Semua
Gunung tidak minta dibayar. Gunung hanya minta dijaga.
Kita minum airnya setiap hari, kita pakai untuk sawah, untuk ternak, untuk mandi. Masa kita biarkan gundul?
“Rimbunkan gunungmu, maka air tidak akan meninggalkanmu”
Jika kita jaga hutan hari ini, maka saat kemarau panjang tahun depan, keran di rumah kita masih bisa menetes.
