Menko Airlangga: RI Siap Kejar Investasi AI USD12 Miliar dan Industri Semikonduktor

JAKARTA, matasosial.com – Di tengah tekanan ekonomi global akibat geopolitik, proteksionisme, dan perkembangan Artificial Intelligence, Indonesia masih mencatatkan kinerja yang solid. Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi Semester I-2026 sebesar 5,45%. Angka tersebut berada di atas rata-rata pertumbuhan dunia dan sejumlah negara lain.

Ketahanan ekonomi juga terlihat dari inflasi Juli 2026 yang terjaga di level 2,88%. Kinerja sektor manufaktur masih ekspansif di atas 50, sementara Indeks Keyakinan Konsumen atau IKK stabil di angka 119.

Kapasitas ekonomi nasional ikut menguat. Realisasi investasi Semester I-2026 tumbuh signifikan, terutama pada sektor hilirisasi. Cadangan devisa juga kuat setara 5,5 bulan impor. Dari sisi pembiayaan, kredit perbankan tumbuh 12,67% yoy, dengan kredit investasi melonjak 24,9% yoy.

“Kemudian kalau kita lihat risiko yang muncul terkait dengan El-Nino. Ini satu hal yang cukup serius, terutama yang akan mengganggu terkait dengan kebutuhan dan ketersediaan. Pemerintah terus mendorong melalui kebijakan agar perekonomian Indonesia tumbuh lebih tinggi dan sejahtera lebih cepat,” jelas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Sidang Pleno ISEI XXV & Seminar Nasional ISEI 2026, Kamis 27 Agustus 2026.

Pemerintah kini fokus menggarap sektor baru sebagai sumber pertumbuhan. Tiga sektor utama yang didorong adalah digitalisasi, semikonduktor, dan AI. Ketiganya membutuhkan penguasaan teknologi, pengetahuan, dan SDM kompeten.

Untuk ekosistem semikonduktor, pemerintah menggandeng ARM dari Inggris guna menyiapkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi. Di sektor pertanian dan energi, digitalisasi juga terus dipercepat termasuk untuk mendukung kesiapan program B50.

Kebijakan di sektor mineral juga diperkuat melalui penyesuaian bursa mineral agar harga komoditas lebih optimal. Di sisi perdagangan, Indonesia terus melakukan deregulasi dan memperluas kerja sama internasional. Saat ini RI sudah memiliki 25 perjanjian internasional termasuk CPTPP yang melibatkan 12 negara. Proses aksesi ke OECD juga sudah masuk tahap Technical Review.

Dukungan fiskal terus diberikan untuk menciptakan iklim investasi kondusif. Pemerintah mendorong proyek strategis termasuk hilirisasi berbasis renewable energy. Pembangunan kawasan industri dan KEK juga dipercepat sebagai motor pertumbuhan.

Di bidang perdagangan, pemerintah memperkuat daya saing ekspor nasional di tengah kebijakan proteksionisme global agar kapasitas produksi dalam negeri bisa lebih dimanfaatkan.

“Saya juga ingin sharing bahwa Indonesia telah bergabung sebagai founding member di World AI Collaboration Organization. Dan ini akan membuka ruang investasi AI sebesar USD8-12 miliar di tahun 2026 hingga 2030. Ini adalah momentum bagi Indonesia karena AI ini membutuhkan data center,” pungkas Menko Airlangga.

Pemerintah juga akan mendorong penguatan komoditas kelapa rakyat agar nilai tambahnya naik dan harga di tingkat petani lebih baik. Ekosistem nikel untuk baterai kendaraan listrik juga terus dibangun guna memperkuat struktur industri nasional.

Pada sektor digital, kerja sama diperkuat melalui Digital Economy Framework Agreement atau DEFA. Ekosistem pembayaran digital juga dikembangkan, termasuk sistem pembayaran yang sudah digunakan di sejumlah negara Asia untuk memperkuat konektivitas lintas negara.

“Dengan mengoptimalkan momentum tersebut melalui percepatan hilirisasi, pengembangan industri semikonduktor dan AI, penguatan ekonomi digital, serta perluasan akses pasar melalui kerja sama perdagangan internasional, Pemerintah optimis tentunya Indonesia bisa bersaing dengan menggunakan negara lain di sektor digital,” jelas Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto.

Turut hadir dalam acara tersebut Ketua Dewan Komisioner LPS, Wamendagri, serta jajaran Pengurus Pusat ISEI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *