Air Mata dan Doa Paskibraka Mewarnai Penurunan Bendera di HUT ke-81 RI di Istana

BERITA33 Dilihat

JAKARTA, MATASOSIAL.COM – Halaman Istana Merdeka kembali menjadi saksi sejarah. Senin 17 Agustus 2026, Sang Merah Putih diturunkan dengan gerakan serempak oleh para Paskibraka pada Upacara Penurunan Bendera HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Namun yang tak terlihat di layar televisi adalah cerita di baliknya. Ada tangis haru, ada doa untuk keluarga di kampung, dan ada mimpi yang akhirnya terwujud.

Maharazthu Rizqhy Ramadhana Chubuyana dari Nusa Tenggara Barat berdiri di barisan Kelompok 8. Tugasnya sebagai pengerek bendera. Posisi yang katanya jadi incaran semua peserta Paskibraka putra.

“Perasaan saya tentu saja bahagia, bahagia terharu karena bisa sampai ke pasukan 8, yaitu pengerek bendera karena semua impian laki-laki yang Paskibraka pasti ingin jadi kelompok 8,” tuturnya.

Di sampingnya, komando Kelompok 8 dipegang Atanasius Meyllano Frans Yogar asal Nusa Tenggara Timur. Ia mengaku tak pernah membayangkan bisa sampai sejauh ini. Sejak awal seleksi, ia hanya pasrah dan bekerja sebaik mungkin.

“Ikut saja seleksi, mau sampai mana Tuhan kasih, pasti bersyukur dan menjalankan tugas yang baik,” ujarnya.

Momen bertugas itu juga ia gunakan untuk menyampaikan pesan dari jauh. NTT yang tengah dilanda bencana menjadi perhatian Atanasius.

“Untuk Bapak Mama, saudara semua yang ada di NTT, yang sekarang terjadi bencana. Atanasius dari sini dan teman-teman turut berdoa dan mengucapkan turut berduka cita yang sebesar-besarnya karena terjadi gempa yang sangat besar di sana,” ucapnya dengan haru.

Dari ujung timur Indonesia, Papua, hadir Neeltje Deliana Insjowi Werimon. Ini kali pertama ia mengikuti Paskibraka, dan langsung dipercaya menjadi pembawa baki saat penurunan bendera.

“Tentunya saya bahagia sekali dan tidak expect sekali karena ini pertama kali saya mengikuti Paskibra, bisa lulus tingkat nasional, bisa menjadi pembawa baki dan bisa membawa nama baik Provinsi Papua,” kata Neeltje.

Keberhasilan mereka tidak datang sendiri. Di belakang layar, para pembina menemani sejak pagi buta sampai malam. Kapten Pnb Bagus Setianto yang bertugas sebagai Komandan Kompi, menyebut kedekatan dengan adik-adik Paskibraka jadi kunci kelancaran tugas.

“Selama latihan, tentunya banyak cerita. Kami latihan mulai dari pagi sampai sore, menjelang malam hari terkadang. Di situ banyak cerita yang kita laksanakan, selain tentunya kita juga harus dengan serius, tapi banyak canda tawa terhadap adik-adik. Kita juga harus mendekatkan diri tentunya kepada adik-adik biar pelaksanaan dapat berjalan dengan aman lancar,” kata Kapten Bagus.

Kini upacara selesai. Bendera sudah kembali terlipat. Tapi bagi Maharazthu, Atanasius, Neeltje, dan rekan-rekannya, 17 Agustus 2026 akan terus hidup sebagai kenangan. Bukan hanya karena berhasil menjalankan tugas negara, tapi karena di dalamnya ada kebanggaan, pengorbanan, dan harapan untuk masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *