NAGEKEO, matasosial.com — Gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Nagekeo, Nusa Tenggara Timur dua minggu lalu tidak hanya merobohkan rumah warga. Bencana itu juga merenggut “rumah peradaban” milik anak-anak Nagekeo: Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan.
Gedung yang sejak 2021 menjadi pusat belajar, membaca, dan mengakses teknologi itu kini berlabel merah dari hasil pemeriksaan tim teknis Kementerian PUPR. Artinya, bangunan tidak layak pakai dan harus dikosongkan sementara.
Kehilangan itu paling terasa bagi anak-anak. Mereka yang biasanya menghabiskan sore di perpustakaan kini hanya bisa bertanya: “Kami baca di mana lagi?”
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Nagekeo, Seri Babo Nuwa, masih ingat jelas reaksi anak-anak saat tahu gedungnya rusak.
“Setelah gedung ini diresmikan, banyak anak-anak datang kunjung. Nah ini mereka, ada yang menangis, aduh kami baca dimana lagi. Karena di sini pusat pengetahuan, pusat informasi, dan pusat inovasi,” cerita Seri Babo Nuwa di lokasi, Rabu 26 Agustus 2026.
Lebih dari Sekadar Perpustakaan
Bagi warga Nagekeo, gedung ini bukan sekadar rak buku. Dibangun lewat Dana Alokasi Khusus DAK 2021, perpustakaan ini dikonsep sebagai “rumah peradaban” dan “laboratorium sumber daya manusia”.
Di dalamnya anak TK, SD, SMP, hingga masyarakat umum bisa belajar bersama. Ada ruang baca, fasilitas multimedia untuk berselancar di dunia digital, hingga program inklusi yang difungsikan seperti hub literasi di Nagekeo.
“Konsep kantor kita ini adalah rumah peradaban dan laboratorium sumber daya manusia. Sehingga ketika kantor ini jadi banyak aktivitas baik itu dari anak-anak TK, SD, SMP sampai masyarakat,” ujar Seri.
Saat gempa terjadi, Seri sedang di rumah. Ia langsung ke lokasi setelah mendapat kabar dari warga. Perabot dan fasilitas banyak yang rusak. Beruntung beberapa komputer di lantai bawah masih bisa diselamatkan.
Titip Harapan ke Presiden Prabowo
Di tengah puing dan tenda pengungsian, harapan anak-anak Nagekeo kini tertuju pada pemerintah pusat. Mereka merindukan perpustakaan itu kembali berdiri.
“Harapan kami ke depan yang pertama, untuk sementara dalam mendukung pelayanan, kita bisa dapat gedung darurat, mungkin semi permanen. Karena kita akan teruskan layanan kepada masyarakat. Sambil juga kita mohon dukungan ke depan, kalau berkenan untuk bangun kembali gedung,” kata Seri.
Ia juga menitipkan pesan kepada Presiden Prabowo Subianto agar pembangunan kembali perpustakaan bisa masuk dalam program tahun mendatang.
“Dan kepada semua kita, masyarakat Nagekeo yang mendapatkan korban kerusakan material, kiranya dikuatkan, dan mari terus bangkit kembali. Di bawah kepemimpinan Presiden ini, banyak hal yang sudah bergerak, yang kita berharap untuk terus maju secara ekonomi, ketahanan pangan, dan lain sebagainya,” katanya.
Kini, sambil menunggu kepastian bantuan, layanan perpustakaan Nagekeo untuk sementara dititipkan di tempat seadanya. Tapi semangat anak-anak untuk membaca, kata Seri, tidak boleh padam.
