Matasosial.com, Sukabumi Jum’at 21/11/2025. Masih ingat dengan kejadian Fadillah yang rumahnyanya amburk?, Malam hujan deras di Sukabumi, Jumat 14 November 2025, menjadi saksi runtuhnya sebuah rumah tua di Kampung Cihonje. Di balik suara gemuruh bambu yang patah dan genting yang pecah, tersisa seorang pemuda piatu bernama Fadilah, berdiri terpaku menatap puing-puing yang dulu disebutnya rumah. Kesunyian malam itu seakan memantulkan kepedihan: tempat berteduh yang diwariskan kakek-neneknya kini rata dengan tanah, meninggalkan luka yang tak hanya merobek atap, tetapi juga hati.
Namun di tengah pilu, hadir semangat yang tak pernah padam. Pemerintah Kabupaten Sukabumi, di bawah kepemimpinan Bupati H. Asep Japar, bergerak cepat. Dengan visi Sukabumi Mubarokah—sebuah cita-cita menjadikan daerah penuh keberkahan, kepedulian, dan kebersamaan—Asep Japar memastikan bahwa tragedi ini bukan akhir, melainkan awal dari harapan baru. Ia mengutus jajaran, Baznas, camat, dan kepala desa untuk turun langsung, membangun kembali bukan hanya rumah yang roboh, tetapi juga semangat hidup seorang anak muda yang selama ini bertahan dalam kesunyian.
ini mengingatkan kita bahwa Sukabumi Mubarokah bukan sekadar slogan, melainkan nyata dalam tindakan: menjawab tangisan rakyat, menyalakan kembali cahaya di tengah reruntuhan, dan meneguhkan bahwa setiap warga berhak atas tempat tinggal yang layak serta kehidupan yang bermartabat.
Sebuah rumah tua di Kampung Cihonje, Desa Sukamaju, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, ambruk pada Jumat (14/11/2025) malam sekitar pukul 21.00 WIB. Rumah peninggalan kakek-nenek itu selama ini menjadi tempat tinggal Fadilah (20), seorang pemuda piatu dengan keterbatasan.
Video berdurasi 1 menit 18 detik yang memperlihatkan Fadilah berdiri terpaku di depan puing rumahnya viral di TikTok. Rekaman itu diunggah oleh warga setempat, Ay Marlina, yang dengan suara pilu menuturkan runtuhnya bangunan saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut. “Terdengar ambruknya itu sekitar pukul 21.00 WIB,” kata Marlina, Sabtu (15/11/2025).
Pantauan di lokasi menunjukkan sisa bangunan luluh lantak. Rangka bambu berserakan, genting pecah bercampur bilik bambu, sementara pintu kayu lapuk masih berdiri miring. Dua jendela hijau muda roboh ke tanah, kacanya tertutup debu. Di antara puing, pakaian penghuni rumah tampak tercecer.
Respons Cepat Pemerintah
Pemerintah Kabupaten Sukabumi bergerak cepat setelah kabar ini mencuat. Bupati Sukabumi, H. Asep Japar, langsung memerintahkan jajarannya turun ke lokasi. “Kita pastikan dulu kondisi warga yang terdampak, apa saja yang benar-benar dibutuhkan dan apa yang bisa langsung kita bantu. Saya minta jajaran turun hari ini untuk melihat langsung dan menindaklanjuti sesuai kebutuhan di lapangan,” ujar Asep Japar, Sabtu (15/11/2025) malam.
Ketua Baznas Kabupaten Sukabumi, Unang Sudarma, bersama camat dan kepala desa ditugaskan mendatangi lokasi. “Hari ini saya ditugaskan oleh pak bupati bersama camat dan kades untuk memulai pembangunan rumah yang roboh,” kata Unang.
Ia menambahkan, lamanya pengerjaan bergantung pada kondisi cuaca. “Target tergantung cuaca, kalau mendukung sekitar 2 minggu sudah bisa selesai. Dan kita dukungan dari masyarakat sangat menentukan,” ujarnya.
Kisah Sosial yang Mengiris Hati
Camat Cikembar, Asep Rusli Rusmawijaya, menjelaskan kondisi sosial Fadilah. “Fadil itu ibu-bapak pisah, ibu meninggal, bapaknya sudah menikah lagi. Kemarin Fadil dengan neneknya. Neneknya meninggal, sekarang dengan uwak dan bibinya, dan dengan pak RW masih saudaranya,” jelasnya.
Ia menegaskan pemerintah melakukan dua penanganan sekaligus. “Langkah pertama rehab rumah kemudian rehab anak tersebut nanti ditindaklanjuti puskesmas dan pihak terkait. Nanti tergantung rujukan,” ujarnya.
Harapan Baru
Rumah yang roboh itu sebenarnya sudah lama lapuk. Keluarga menyebut pernah mengajukan bantuan perbaikan rumah layak huni, bahkan pihak desa sempat memotret kondisi rumah seminggu sebelum kejadian. Namun, perbaikan tak kunjung dilakukan hingga akhirnya bencana itu benar-benar terjadi.
Kini, pembangunan rumah baru mulai dilakukan dengan dukungan pemerintah dan warga sekitar. Di tengah puing-puing yang berserakan, harapan baru bagi Fadilah perlahan dibangun kembali.
