Sukabumi, Matasosial.Com – Semarak Hari Jadi Kabupaten Sukabumi ke-156 di Desa Ubrug, Kecamatan Warungkiara, menjadi momentum penting bagi Bupati Sukabumi H Asep Japar untuk menegaskan arah pembangunan daerah. Dalam suasana penuh kebersamaan, ia mendorong agar Warungkiara tidak hanya mengembangkan potensi wisata, tetapi juga memperkuat sektor pangan sebagai penggerak utama ekonomi masyarakat.
Acara peringatan HUT ke-156 ini dipusatkan di lapangan Desa Ubrug dan dihadiri ribuan warga dari berbagai desa di Kecamatan Warungkiara. Sejak pagi, warga sudah memadati lokasi untuk mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari jalan santai, bazar UMKM, hingga pertunjukan seni budaya Sunda. Pemerintah kecamatan menjadikan peringatan ini sebagai ajang untuk memperkenalkan program-program unggulan daerah kepada masyarakat luas.
Menurut Bupati, pemilihan Warungkiara sebagai pusat peringatan tahun ini bukan tanpa alasan. Wilayah selatan Sukabumi memiliki karakteristik yang berbeda dengan wilayah utara. Topografinya berbukit, memiliki garis pantai, lahan pertanian, dan budaya masyarakat yang masih kuat. Kombinasi ini membuat Warungkiara memiliki peluang besar untuk dikembangkan secara terpadu.
Ia menekankan bahwa pembangunan tidak bisa hanya bertumpu pada satu sektor. Jika selama ini wisata menjadi andalan, maka ke depan sektor pangan harus disejajarkan agar ekonomi masyarakat lebih stabil dan tidak tergantung pada musim kunjungan wisatawan.
Menurutnya, Warungkiara memiliki kekayaan alam, kuliner, UMKM, hingga aktivitas masyarakat yang bisa dikemas lebih serius. “Potensi ini bisa dikemas menjadi paket wisata terpadu sehingga kunjungan wisatawan turut memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Penjelasan lebih lanjut, paket wisata terpadu yang dimaksud meliputi wisata alam, wisata kuliner, dan wisata edukasi UMKM. Contohnya wisatawan bisa diajak berkunjung ke kebun pangan lokal di pagi hari, dilanjutkan mencicipi kuliner khas Warungkiara di siang hari, dan ditutup dengan belanja produk UMKM di sore hari. Dengan skema seperti ini, uang yang dibelanjakan wisatawan tidak hanya berhenti di tempat wisata, tetapi juga berputar ke petani, pengolah makanan, dan pelaku usaha kecil.
Bupati juga menyoroti peran strategis BUMDes dalam penguatan ekonomi desa. Saat ini tercatat 12 desa di Kecamatan Warungkiara telah memiliki BUMDes yang aktif. Beberapa di antaranya sudah menjalankan unit usaha di bidang pertanian, perdagangan, jasa, dan pengelolaan wisata desa.
Bupati juga menekankan pentingnya ketahanan pangan melalui program BUMDes yang telah berjalan di 12 desa. Ia berharap lembaga tersebut menjadi motor penggerak ekonomi lokal. “Pariwisata kita kembangkan, pangan kita kuatkan, BUMDes kita berdayakan, dan masyarakat kita sejahtera,” tegasnya.
Untuk memperkuat peran BUMDes, pemerintah kabupaten menargetkan adanya integrasi antar desa. Artinya BUMDes di satu desa tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling terhubung dalam rantai pasok. Misalnya BUMDes A fokus pada produksi padi, BUMDes B fokus pada pengolahan, dan BUMDes C fokus pada pemasaran. Model kolaborasi ini diharapkan mampu menekan biaya produksi dan meningkatkan daya saing produk lokal.
Dorongan ini bukan sekadar seruan, melainkan ajakan untuk membangun kolaborasi antar-BUMDes, memperluas jejaring usaha, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan nilai tambah dari potensi lokal. Dengan langkah itu, Sukabumi diharapkan semakin mendekati cita-cita Sukabumi Mubarokah.
Konsep kolaborasi juga penting untuk menghadapi tantangan pasar. Produk UMKM dan pangan lokal selama ini sering terkendala pada kemasan, izin edar, dan akses pasar. Melalui jejaring BUMDes, persoalan tersebut bisa diselesaikan bersama. Pemerintah kabupaten pun berkomitmen memberikan pelatihan, pendampingan, dan bantuan permodalan agar produk lokal bisa naik kelas.
Semangat Sukabumi Mubarokah yang diusung pemerintah daerah menjadi landasan kuat agar pembangunan tidak hanya berorientasi pada ekonomi, tetapi juga pada nilai budaya dan keberkahan. Konsep Sukabumi Mubarokah mencerminkan daerah yang maju, unggul, berbudaya, dan berkah, sehingga setiap kebijakan diarahkan untuk memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Dalam konteks pembangunan, Mubarokah diartikan sebagai pembangunan yang tidak meninggalkan nilai-nilai religius dan budaya. Setiap program harus memberi kebermanfaatan, tidak merusak lingkungan, dan berpihak pada masyarakat kecil. Pendekatan ini diharapkan menjadi pembeda Sukabumi dengan daerah lain.
Bupati menambahkan bahwa pengembangan wisata terpadu akan membuka peluang bagi UMKM dan kuliner khas daerah untuk lebih dikenal luas. Hal ini sekaligus memperkuat identitas budaya lokal yang menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Beberapa kuliner khas Warungkiara seperti ikan bakar, sayur lodeh, dan aneka olahan singkong dinilai memiliki potensi untuk dikemas modern. Dengan branding yang kuat, produk ini bisa menjadi oleh-oleh wajib bagi wisatawan yang berkunjung ke Sukabumi Selatan. Selain itu, festival kuliner dan gelar produk UMKM secara rutin juga dinilai efektif untuk memperkenalkan potensi daerah.
Selain itu, penguatan pangan melalui BUMDes diyakini mampu menjaga stabilitas ekonomi masyarakat desa. Dengan kolaborasi yang baik, setiap desa dapat saling menopang dan menciptakan kesejahteraan bersama.
Ketahanan pangan menjadi isu penting di tengah ketidakpastian harga dan perubahan iklim. Dengan menguatkan produksi pangan lokal, desa tidak perlu terlalu tergantung pada pasokan dari luar. BUMDes bisa berperan sebagai penampung hasil panen petani, sekaligus distributor ke pasar yang lebih luas. Langkah ini juga sejalan dengan program pemerintah pusat dalam mewujudkan swasembada pangan.
Ia menekankan bahwa keberhasilan pembangunan di Warungkiara akan menjadi contoh nyata bagaimana potensi lokal bisa diolah menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan. Dengan dukungan masyarakat, pemerintah, dan lembaga desa, Warungkiara diharapkan mampu menjadi pusat pertumbuhan baru.
Untuk mewujudkan hal itu, dibutuhkan sinergi semua pihak. Pemerintah desa harus aktif, masyarakat harus mau berubah, dan swasta bisa dilibatkan sebagai mitra. Tanpa kebersamaan, program sebesar apapun akan sulit berjalan. Bupati optimis jika fondasi ekonomi sudah kuat, maka indeks pembangunan manusia di wilayah selatan juga akan ikut naik.
Usai melepas peserta Jalan Santai, rangkaian acara dilanjutkan dengan peletakan batu pertama pembangunan Tugu Selamat Datang Kecamatan Warungkiara. Tugu ini diharapkan menjadi simbol semangat baru dalam mengembangkan wilayah.
Pembangunan tugu menjadi penanda bahwa Warungkiara siap menyambut tamu dan investor. Keberadaan landmark ini juga diharapkan bisa menjadi titik foto dan daya tarik wisata baru. Pemerintah kecamatan menargetkan tugu selesai dalam beberapa bulan ke depan dan bisa diresmikan bertepatan dengan agenda besar berikutnya.
Dengan langkah nyata tersebut, Warungkiara diharapkan mampu menjadi pusat wisata terpadu sekaligus lumbung pangan yang berdaya saing, membawa Sukabumi semakin dekat pada cita-cita daerah yang maju, unggul, berbudaya, dan berkah.
