Bandung, Di Jatinangor, 10 Agustus 2026 – akhir Juli 2026, sebuah kisah lahir dari jejak kegagalan yang berulang namun tak pernah mematahkan semangat. Charina Anggie Simbolon, perempuan asal Batam, akhirnya berdiri sebagai salah satu lulusan terbaik Sapta Abdi Praja IPDN Angkatan XXXIII. Perjalanan itu bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan wujud nyata mimpi sang ayah yang dulu tertunda.
Anggie tumbuh dalam kesederhanaan rumah dinas Kodim, ditempa oleh disiplin seorang ayah prajurit TNI dan kasih seorang ibu rumah tangga. Dari kecil ia diajarkan untuk selalu bersyukur, meski hidup tak selalu memberi jalan mudah. Pesan ayahnya, agar anak-anaknya berjuang menjadi perwira, menjadi api yang terus menyala dalam hatinya.
Selepas SMA, jalan menuju sekolah kedinasan penuh penolakan. Seleksi Akpol, CPNS Kejaksaan, hingga IPDN 2021 belum membuahkan hasil. Di tengah keterbatasan keluarga, ia sempat ingin bekerja, namun ayahnya menahan. Masa itu justru membawanya menjadi relawan di shelter korban perdagangan manusia dan kekerasan, pengalaman yang menajamkan rasa syukur sekaligus tekadnya.
Tahun 2022 menjadi titik balik. Saat nilai SKD muncul di layar komputer dengan hasil memuaskan, air matanya mengalir. “Itu saya nangis. Saya berterima kasih sama Tuhan. Terima kasih Tuhan, mungkin ini memang langkahku untuk banggakan Papa-Mama,” terang Anggie.
Sejak resmi menjadi Praja IPDN, Anggie konsisten meraih peringkat pertama hingga akhirnya dinobatkan sebagai Sapta Abdi Praja. Namun bagi Anggie, kebahagiaan sejati bukan sekadar gelar. Momen paling berharga adalah ketika kedua orang tuanya duduk tenang menyaksikan pelantikannya langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. “Ini yang aku bisa kasih. Ini undangan, kalian (mama-papa) bisa duduk tenang, kalian bisa menyaksikan aku menjadi sepuluh besar, kalian bisa menyaksikan aku dilantik sama Pak Prabowo. Itu suatu kebanggaan untuk orang tua saya, dan itu suatu hal yang sangat saya syukuri,” ungkapnya.
Kini, Anggie melangkah sebagai ASN dengan tekad melayani masyarakat. Ia bercita-cita melanjutkan studi magister di luar negeri dan memperkuat kapasitasnya sebagai pelayan publik. “Saya ingin menjadi seorang ASN yang benar-benar melayani, bukan untuk dilayani,” jelasnya.
Pesannya untuk generasi muda sederhana namun kuat: “Ayo, jangan putus asa, jangan ragu dengan apa yang kamu miliki. Yang penting kamu niat, kamu punya motivasi, kamu belajar dengan sungguh-sungguh, dan itu semua harus kamu tutup dengan doa,” pesannya.
Kisah Anggie adalah cerita tentang bagaimana kesederhanaan melahirkan keteguhan, kegagalan berbuah kemenangan, dan mimpi ayah yang akhirnya hidup dalam langkah sang anak—sebuah narasi masa depan yang memberi harapan bagi banyak orang.
