Dari Tangisan ke Senyuman Setelah Dibantu Kang Iman Adinugraha: Perjuangan Ibu Tini Lepas dari Beban Hutang

Sukabumi – Hari ini, Ibu Tini merasakan kebebasan yang luar biasa setelah berhasil menyelesaikan persoalan hutang-hutangnya. “Sekarang saya sudah bebas. Sudah merdeka. Sudah merdeka,” ungkapnya dengan penuh kebahagiaan dalam Podcast Iman Adinugra di Studio Catur belum lama ini.

Ibu Tini mengucapkan terima kasih kepada Iman Adinugraha dan kawan-kawan yang telah membantu menyelesaikan persoalan hutangnya. “Kemarin sudah dibayarin hutang. Sekarang sudah terbebas dari hutang-hutang yang menjerat,” kata Iman.

Masih kata Iman, Selama ini, Ibu Tini harus menghadapi para penagih hutang dari jam 7 pagi hingga jam 7 malam. “Itu ternyata ibu itu dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam itu didatangi orang-orang yang agak serem gitu. Yang menagih tagihan,” jelasnya.

Kini, Ibu Tini merasa lebih cerah dan senang. “Hari ini agak cerah, cerah banget. Auranya keluar,” ujarnya. Meskipun belum memiliki modal untuk usaha, Ibu Tini tetap produktif dengan membantu pekerjaan rumah tangga orang lain.

Ibu Tini juga bercerita tentang trauma dan keinginannya untuk tidak berhutang lagi. “Trauma, Bapak alim. Ibu sudah trauma, Ibu sudah alim. Jadi sudah tidak mau berutang lagi,” tegasnya. Ia juga menambahkan bahwa para penagih hutang sudah tidak mengganggunya lagi.

Iman mengingatkan ibu-ibu lainnya untuk menghindari bank keliling yang mengatasnamakan koperasi. “Tolong hindari para bank keliling itu. Mereka mengatasnamakan koperasi. Kooperasi simpan pinjam. Tetapi entah di mana kantornya,” tegasnya.

Ibu Tini berharap ke depannya bisa memiliki rumah sendiri agar terlepas dari beban kontrakan. “Pinginnya tuh punya rumah walaupun kecil,” harapnya. Program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang mencanangkan 3 juta rumah untuk masyarakat di seluruh Indonesia diharapkan dapat membantu Ibu Tini dan masyarakat lainnya.

Selain itu, Ibu Tini ingin memulai usaha kecil-kecilan, terutama menjelang bulan puasa. Ia berencana menjual bubur sumsum, kolak, biji salak, dan tajil lainnya. “Modal awal tuh diperkirakan 500 ribuan lah,” katanya. Dengan modal tersebut, ia berharap dapat menghasilkan keuntungan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membayar kontrakan.

Iman dan kawan-kawannya siap membantu Ibu Tini untuk memulai usahanya. “Modal 500 ribu rupiah, insya Allah. Hari ini pun akan saya kasih ke Ibu untuk persiapan bulan puasa,” ujarnya. Ia juga berpesan kepada pemerintah daerah untuk mendata masyarakat yang bernasib sama seperti Ibu Tini agar persoalan-persoalan kecil namun penting ini bisa diselesaikan.

Ibu Tini pun memberikan pesan kepada ibu-ibu lainnya, “Tolong jangan seperti Bu Tini yang terjerat Bank operasi. Sangat-sangat beban. Mohon untuk ibu-ibu yang lain jangan seperti saya. Sekarang saya sudah bebas. Sudah merdeka.”

Pemirsa, semoga kisah Ibu Tini ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Ingat catur, ingat Kang Iman. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *