Desa Cikahuripan Menyalakan Konstelasi Hijau: Forum Edukasi Hutan Lindung sebagai Orbit Keberkahan Sukabumi

Cisolok, Sukabumi — 18 September 2025 Di bawah langit Sukabumi yang terus mencari keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian, Desa Cikahuripan bisa saja menjadi titik koordinat penting dalam peta ekologi Jawa Barat. Seperti bintang yang memancarkan sinyal kehidupan, pemerintah desa menggelar forum edukasi bertema “Hutan Lindung sebagai Sumber Kehidupan dan Keberkahan”, mengundang elemen strategis dari KCDK, DLH, Camat Cisolok, Danramil, Kapolsek, RT/RW, tokoh masyarakat, dan lembaga desa untuk menyelaraskan orbit pemahaman dan komitmen.

Forum ini menjadi ruang gravitasi bersama, tempat masyarakat dan pemangku kebijakan duduk sejajar dalam lintasan edukasi ekologis. Di tengah ancaman banjir dan longsor yang mengintai seperti asteroid tak terdeteksi, forum ini menegaskan bahwa pelestarian hutan bukan hanya tindakan preventif, melainkan investasi kosmis untuk generasi mendatang.

Perwakilan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Rudi Jaya, hadir sebagai navigator yang membuka spektrum klasifikasi hutan: dari hutan satwa, pelestarian alam, hingga produksi terbatas dan produksi legal. Ia menegaskan bahwa kawasan Cikahuripan telah masuk dalam zona perlindungan, dan segala bentuk akses yang mengganggu harus dihentikan demi menjaga keseimbangan ekosistem.

“Kalau diganggu, ya mengakibatkan banyak hal, Pak. Banjir, kesulitan air ketika kemarau, ketika hujan, ya banjir. Itu baru-baru yang kelihatannya, Pak,” ungkapnya.

Ia juga menekankan bahwa pemahaman masyarakat terhadap fungsi dan kategori hutan adalah kunci agar mereka dapat menjadi penjaga orbit konservasi yang berkelanjutan.

Di tengah forum yang mengalir seperti lintasan planet, satu suara menjadi pusat gravitasi moral: Jaro Midun, Kepala Desa Cikahuripan. Ia tidak hanya berbicara sebagai pemimpin administratif, tetapi sebagai penjaga langit lokal yang menyaksikan langsung dampak kerusakan ekologi. Ia mengingatkan bahwa banjir tahun 2013 bukan sekadar peristiwa, melainkan peringatan dari alam.

“Pengaduan masyarakat itu nyata, terutama di RW 1 dan RW 3. Tahun 2013, banjir merendam ratusan rumah, termasuk kantor desa ini. Itu akibat tidak ada penyerapan air karena hutan, pohon, kayu sudah banyak ditebang. Ini jadi masalah buat lingkungan kita,” ujarnya.

tambahnya, Jaro Midun menyampaikan komitmen yang tak tergoyahkan:

“Saya sendiri akan melaporkan ini ke ranah hukum jika terus dibiarkan. Tapi sekarang kita diskusi dan ada sosialisasi dari pihak terkait agar ini tidak jadi bencana di kemudian hari. Karena Sukabumi Mubarokah adalah nafas kita. Dan menjaga hutan adalah bagian dari komitmen itu.”

Seperti bintang yang tetap bersinar di tengah kabut galaksi, suara Jaro Midun menjadi penanda bahwa di Cikahuripan, pelestarian bukan hanya tugas, tapi takdir. Hutan bukan hanya dijaga, tapi dimuliakan—karena dari akar yang sehat, tumbuhlah generasi yang kuat untuk Sukabumi yang Mubarokah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *