Sukabumi – Sebuah video yang beredar di media sosial menggugah nurani banyak pihak. Terlihat seorang janda tua tinggal di rumah yang nyaris roboh, dengan bilik rapuh, atap bolong, dan lantai yang tak lagi mampu menahan dingin malam. Rumah itu berdiri di Desa Cihelang Tonggoh, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi—sebuah tempat yang sunyi, namun kini menjadi sorotan karena ketidaklayakan yang menyayat hati, Senin 08 September 2025.
Meski Bupati Sukabumi belum dapat hadir langsung ke lokasi, semangat Sukabumi Mubarokah tetap bergerak. Tim turun ke lapangan, meninjau langsung kondisi rumah yang tak lagi layak disebut tempat tinggal. Di tengah keterbatasan, langkah kecil ini menjadi bukti bahwa kepedulian tidak selalu harus datang dengan sorotan, tapi bisa hadir dalam diam yang bekerja.
Dalam pernyataan resminya, Asep Japar, atas nama Pemerintah Kabupaten Sukabumi, menyampaikan rasa prihatin yang mendalam:
“Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya atas nama Pemerintah Kabupaten Sukabumi merasa prihatin melihat kondisi rumah yang ada di Desa Cihelang Tonggoh, Kecamatan Cibadak, yang sementara ini kurang layak untuk dihuni. Dan insyaallah dalam waktu dekat kami akan usulkan rumah tersebut untuk dibangun agar layak untuk dihuni. Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi.”
Pernyataan tersebut bukan sekadar janji birokratis. Ia adalah doa yang disampaikan dengan penuh tanggung jawab. Dalam pandangan holistik Asep Japar, membangun Sukabumi bukan hanya soal infrastruktur, tetapi tentang menyentuh sisi kemanusiaan yang paling sunyi—tempat di mana seorang janda tua menunggu uluran tangan di bawah atap yang bocor.
Sukabumi Mubarokah bukanlah slogan kosong. Ia adalah gerakan batin yang percaya bahwa setiap warga, tak peduli seberapa sunyi hidupnya, berhak mendapatkan tempat yang layak untuk berteduh. Ia adalah harapan yang menetes perlahan, seperti hujan yang jatuh di sela-sela genting bolong, namun tetap membawa berkah bagi tanah yang sabar menanti.
Semoga langkah ini menjadi awal dari banyak pintu kebaikan yang terbuka. Semoga rumah itu kelak berdiri kokoh, bukan hanya sebagai bangunan fisik, tetapi sebagai simbol bahwa di Sukabumi, tak ada yang benar-benar ditinggalkan. Karena dalam semangat Mubarokah, setiap air mata adalah panggilan, dan setiap panggilan adalah amanah.












