Sukabumi — 16 September 2025 Setiap malam hujan turun, keluarga Ana (40) tak tidur dengan nyenyak. Mereka tidak menunggu mimpi, melainkan menunggu tetesan air dari genteng lapuk yang satu per satu membasahi tikar. Genangan kecil di lantai semen dingin menjadi alarm sunyi yang memaksa mereka berpindah tempat tidur. Di rumah berdinding bilik berukuran 3 x 6 meter di Kampung Ciamarayah, Desa Walangsari, Kecamatan Kalapanunggal, enam jiwa bertahan dalam ruang sempit yang berdiri di atas tanah miring—rapuh, namun tetap disebut rumah.
Ana bekerja sebagai kuli cangkul. Penghasilannya tak menentu, hanya sekitar Rp 120 ribu per minggu. Itu pun sering habis untuk membeli beras dan kebutuhan makan sehari-hari, dirinya tak mengeluh hatinya kuat laksana baja.
“Kadang kerja cuma 2 hari, seminggu libur, jangankan untuk memperbaiki rumah, buat makan saja sudah pas-pasan,” ujar Ana.
Rumah itu memiliki dua kamar kecil berukuran 2 x 2 meter. Tapi bukan kenyamanan yang mereka temukan di sana, melainkan rasa takut. Atap bilik sudah melengkung ke bawah, seakan menunggu waktu untuk ambruk.
“Karena tak ada tempat, istri dan anak paling kecil tidur di tengah rumah karena sieun (takut) kamar ambruk. Umi (Ibu Ana) bobo di kamar, Ina (anak Ana) sama anaknya tidur di kamar depan. Saya tidur di dapur,” ungkap Ana.
Dapur itu sendiri sudah nyaris roboh. Letaknya di kemiringan tanah yang rawan longsor. Beberapa kali gempa membuat tanah bergeser, pondasi kayu ikut anjlok, dan bangunan miring. Ana menunjukkan bagian atap rumahnya yang nyaris ambruk, seolah ingin berkata: “Lihatlah, ini bukan sekadar bilik, ini medan bertahan hidup.”
Ia mengaku sudah beberapa kali diajukan dalam program rumah tidak layak huni (Rutilahu), tetapi harapan itu belum juga berbuah.
“Sudah beberapa kali difoto dimintai KK (Kartu Keluarga) terus KTP (Kartu Tanda Penduduk) tapi ya gitu, gak ada kabar lanjutnya,” terang Ana.
Ketika awak media mengonfirmasi, Kepala Desa Walangsari, Dani Setiawan, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebutkan bahwa pada 2024, ada sekitar 50 rumah di desanya yang masuk kategori tidak layak huni. Data itu sudah diajukan ke Pemerintah Kabupaten Sukabumi.
“Alhamdulillah pengajuan dari dua tahun ke belakang kita sudah berikhtiar pemerintah desa dan alhamdulillah di tahun ini pemerintah Kabupaten Sukabumi Insyallah akan merealisasikan bantuan rumah tidak layak huni kepada bapak Ana yang berada di Kampung Ciamarayah RT 13/05,” terang Dani.
Ia menambahkan, bantuan RTLH memang ada setiap tahun, meski jumlahnya terbatas.
“Adapun tahun ini yang kita ajukan ada 48 unit, namun baru wancana yang terealisasi hanya 6 unit,” pungkasnya.
Sementara itu, Ana masih bertahan. Malam-malam hujan tetap ia lalui dengan waspada, memindahkan anak-anak dari kamar ke ruang tengah agar tak tertimpa atap. Dalam keterbatasan, ia menyimpan harapan sederhana: sebuah rumah yang layak, di mana keluarganya bisa tidur tanpa rasa takut. Rumah yang tak hanya berdiri, tapi melindungi.






