JAYAPURA, Matasosial.com– Suasana Aula Kantor Gubernur Papua, Rabu pagi 26 Agustus 2026 dipadati peserta berseragam PMI. Di depan mereka, sambutan Gubernur Papua dibacakan oleh Penjabat Sekda Papua Christian Sohilait.
Tema besar terpampang di layar: “Markas Tangguh, Relawan Siaga”. Itu bukan sekadar slogan. Bagi Pemprov Papua, itu adalah tuntutan.
Di tanah Papua, bencana alam dan konflik sosial bisa datang kapan saja. Jalan terputus, medan berat, komunikasi terbatas. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat yang terdampak hanya punya satu harapan: pertolongan yang datang cepat.
Gubernur Papua Matius Fakhiri menegaskan hal itu di hadapan unsur PMI dan mitra kemanusiaan.
“Dalam situasi bencana alam maupun konflik sosial, masyarakat membutuhkan kehadiran yang cepat, tepat, aman, dan manusiawi,” kata Fakhiri.
Bagi Fakhiri, menjadi relawan di Papua tidak cukup hanya bisa evakuasi dan pertolongan pertama. Ada hal lain yang lebih mendasar: memahami prinsip-prinsip Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, serta tahu cara menjaga diri sendiri saat bertugas.
Selama workshop, peserta tidak hanya duduk mendengarkan. Mereka dibekali materi Safer Access Framework, manajemen posko, rantai komando, asesmen kebutuhan, logistik, komunikasi, hingga pelaporan. Ada juga simulasi taktis dan penyusunan rencana kerja tindak lanjut.
Fakhiri berharap semua materi itu tidak berhenti di atas kertas. Ia ingin ada perubahan nyata begitu workshop selesai.
“Workshop ini harus menghasilkan kapasitas nyata di lapangan. Mulai dari pembagian peran yang jelas hingga relawan yang siap ditugaskan,” ujarnya.
Ia juga menyorot soal koordinasi. Menurutnya, PMI pusat, provinsi, kabupaten dan kota harus satu komando. Ditambah lagi dengan rencana kontingensi dan operasi tanggap darurat yang bisa langsung dijalankan saat keadaan darurat terjadi.
Tapi kesiapsiagaan itu, kata Fakhiri, tidak bisa dikerjakan PMI sendirian. Dibutuhkan sinergi dengan TNI-Polri, dunia usaha, akademisi, tenaga kesehatan, sampai masyarakat.
“Ketika kedaruratan terjadi, kita sudah siap, terlatih, terkoordinasi, dan hadir untuk masyarakat,” pungkasnya.
Dengan geografis Papua yang menantang, pesan itu menjadi pengingat: markas boleh kokoh, tapi yang menentukan adalah kesiapan orang-orang di dalamnya.
