Doa Istri, Langkah Kang Midun: Bronjong Pertama Jadi Tanda Harapan

Matasosial.com, – Sukabumi, 10 November 2025 – Malam-malam di kampung Desa Cikahuripan masih merasa takut kedatangan banjirlagi. Sejak banjir besar melanda dua pekan lalu, suara air yang mengalir deras di sisi pemukiman menjadi pengingat luka yang belum sembuh. Di Rumahnya, Kang Midun dan istrinya tak pernah benar-benar tidur. Setiap malam, mereka duduk berdua, menatap langit-langit rumah, memikirkan satu hal: bagaimana warga bisa segera bangkit.

Tak terhitung berapa kali Kang Midun turun ke lokasi longsoran, menyusuri bantaran sungai yang mengikis harapan. Istrinya, dengan tangan yang tak pernah lepas dari doa, menyiapkan nasi dan kopi untuk relawan, menyeka air mata ibu-ibu yang kehilangan dagangan, dan memeluk anak-anak yang masih trauma.

“Saya dan istri nggak bisa tenang kalau warga masih kesulitan. Setiap malam kami mikir, apa yang bisa kami lakukan lagi besok,” ucap Kang Midun lirih, matanya menatap jauh ke arah tanggul yang belum selesai.

Hari-hari berlalu dengan lumpur di kaki dan laporan yang belum kunjung rampung. Tapi pagi ini, ada yang berbeda. Di bawah langit yang mulai cerah, bronjong pertama akhirnya terpasang. Batu-batu yang disusun rapi dalam anyaman kawat itu bukan sekadar konstruksi—ia adalah simbol harapan, hasil gotong royong, dan bukti bahwa doa-doa malam Kang Midun dan istrinya tak sia-sia.

Warga berkumpul, beberapa membawa nasi bungkus, lainnya sekadar berdiri memandangi bronjong itu dengan mata berkaca. Seorang anak kecil bertanya polos, “Pak, kalau bronjongnya udah dipasang, kita bisa tidur nyenyak lagi ya?” ungkap Kang Midun menirukan pertanyakan anak di sekitar kampung yang terandam banjir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *