Gerbang Wajah Ibu Kota Tidak Boleh Kumuh, Kadis Perkim Sukabumi Ungkap Alasan Renovasi Tugu Jangilus

Mata Sosial Indonesia

Matasosial.com Sukabumi – Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Kabupaten Sukabumi memastikan renovasi Tugu Jangilus bukan sekadar proyek kosmetik menjelang libur Natal dan Tahun Baru, tetapi langkah strategis memperbaiki citra pusat kota yang dinilai telah lama terabaikan.

Kepala Dinas Perkim, Sendi Apriyadi, menegaskan bahwa Tugu Jangilus merupakan titik simbolik yang merepresentasikan wajah ibu kota Kabupaten Sukabumi. Kondisinya yang belakangan tampak kusam dan tidak terawat, kata dia, sudah tidak pantas lagi menjadi pintu masuk kota yang dikunjungi ribuan orang saat akhir tahun.

“Ini pintu depan kota kita. Kalau wajah depan saja terlihat kumuh, bagaimana orang menilai tata kota kita? Karena itu kami bergerak cepat memperbaiki area tersebut sebelum arus wisatawan meningkat,” tegas Sendi.

Sentuhan Kearifan Lokal Jadi Fokus Utama

Sendi menjelaskan, konsep renovasi tidak hanya menambal kerusakan fisik, tetapi menghadirkan identitas lokal yang lebih kuat. Elemen budaya khas Sukabumi disiapkan untuk memperkaya tampilan tugu dan taman di sekitarnya.

Menurutnya, ada dua pendekatan utama:

1. Kearifan Lokal
Ornamen bunga dan bambu akan dipasang sebagai simbol khas budaya Sunda yang merefleksikan nilai kesederhanaan dan kedamaian. Elemen ini dipilih agar tugu tidak sekadar menjadi monumen, tetapi penanda identitas daerah.

2. Pendekatan Psikologis Budaya
Penataan dibuat agar pengunjung merasakan bahwa unsur budaya tidak hanya ditempelkan, tetapi mengalir dan “menghidupkan” ruang kota. “Kami ingin masyarakat yang melintas merasakan kedekatan emosional dan kebanggaan budaya,” ujar Sendi.

Siap Menyambut Lonjakan Wisata Akhir Tahun

Dengan perbaikan menyeluruh serta revitalisasi area taman, pemerintah menargetkan Tugu Jangilus tampil lebih layak sebagai ikon kota yang menyambut para tamu saat puncak kunjungan wisata akhir tahun.

“Kita ingin kota ini menyambut tamu dengan layak. Ini bukan proyek sekadar memperindah, tetapi membangun kembali citra ruang publik yang lebih manusiawi dan berkarakter,” tambahnya.

NA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *