Ikan Layur Salah Satu Potensi Roda Ekonomi Palabuhanratu dan Ikon Kota Nelayan

Matasosial.com

Matasosial.Com,- Sukabumi, Senin  9 Februari 2026, – Palabuhanratu, pusat aktivitas nelayan di Kabupaten Sukabumi, memiliki komoditas unggulan yang menjadi denyut nadi ekonomi masyarakat pesisir: ikan layur. Hasil tangkapan dari Samudera Hindia ini bukan hanya menopang kehidupan nelayan sehari-hari, tetapi juga mengangkat nama Palabuhanratu sebagai daerah penghasil layur berkualitas tinggi.

Potensi Perikanan

Ikan layur memiliki nilai ekonomi yang stabil dengan permintaan pasar yang terus meningkat, baik lokal maupun nasional. Setiap hari, nelayan Palabuhanratu menggantungkan hidup dari hasil tangkapan layur yang kemudian dipasarkan ke berbagai daerah. Layur juga menjadi bahan baku kuliner khas pesisir yang semakin diminati wisatawan, memperkuat citra Palabuhanratu sebagai kota nelayan.

Ikon Palabuhanratu

Kedekatan masyarakat dengan ikan layur mendorong Kelurahan Palabuhanratu menjadikannya sebagai ikon resmi kota nelayan. Hal ini diwujudkan melalui pembangunan Tugu Ikan Layur yang berdiri megah di halaman kantor kelurahan. Tugu tersebut bukan sekadar monumen, melainkan simbol kebanggaan dan identitas masyarakat pesisir yang telah bergantung pada layur selama puluhan tahun.

Lurah Palabuhanratu, Yadi Supriadi, menjelaskan bahwa ide pembangunan tugu lahir dari keseharian masyarakat. “Ikan layur adalah komoditas yang paling sering didapatkan nelayan di sini. Bahkan masyarakat yang sekadar memancing pun lebih sering mendapatkan layur dibanding ikan lainnya,” ujarnya pada Jumat, 6 Februari 2026.

Dampak Ekonomi Lokal

Keberadaan tugu layur semakin memperkuat semangat masyarakat untuk mengembangkan usaha berbasis hasil laut. Produk olahan layur seperti ikan asin, keripik, hingga kuliner khas menjadi peluang usaha baru yang mendukung UMKM lokal. Kehadiran wisatawan yang berkunjung ke Palabuhanratu turut memperluas pasar bagi produk-produk tersebut, sehingga roda ekonomi masyarakat berputar lebih cepat.

Apresiasi Warga

Asep, warga Kecamatan Palabuhanratu, mengungkapkan rasa bangganya: “Ikan layur bukan hanya sumber penghasilan kami, tapi juga simbol kebanggaan. Dengan adanya Tugu Layur, kami merasa identitas nelayan Palabuhanratu semakin kuat dan ekonomi masyarakat bisa terus berkembang,” tuturnya.

Makna Tugu Layur

Lebih dari sekadar ikon, tugu ini menjadi wujud kecintaan terhadap kampung halaman. Sebagai putra asli Palabuhanratu, Yadi Supriadi menekankan bahwa pembangunan tugu adalah kenangan bermakna dari masa kepemimpinannya. “Kami ingin ada sesuatu yang sederhana, tetapi memiliki makna dan bisa dikenang oleh masyarakat Palabuhanratu,” katanya.

Saat ini, pembangunan tugu telah mencapai 95 persen. Meski beragam pandangan muncul, sambutan warga secara umum sangat positif. Yadi berharap tugu ini dapat memicu semangat baru dalam menata wilayah. “Kantor kelurahan adalah rumah kedua. Harus dibuat nyaman, rapi, dan tertata. Dari situlah semangat membangun wilayah bisa tumbuh,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *