Jakarta, 7 Agustus 2026 – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meraih Popular Government Institution Award 2026 pada ajang 7th Indonesia Public Relations Summit (IPRS) 2026 yang digelar The Iconomics di Jakarta. Penghargaan ini diberikan atas komunikasi publik Kemendikdasmen yang dinilai aktif, adaptif, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan apresiasi atas penghargaan tersebut. Ia menilai forum IPRS memiliki peran strategis dalam mendorong komunikasi publik yang berkualitas, mencerminkan keadaban, empati, serta memperkuat persatuan bangsa.
Tantangan Komunikasi Publik
Dalam pidatonya, Abdul Mu’ti menekankan bahwa tantangan komunikasi publik saat ini bukan sekadar menyampaikan informasi cepat, tetapi juga membangun pemahaman dan kepercayaan masyarakat. “Kita harus mampu membedakan antara noise dan voice. Mana yang sekadar kegaduhan untuk menarik perhatian dan mana yang benar-benar menjadi suara substantif yang dapat menjadi masukan dalam pengambilan kebijakan,” jelasnya.
Ia menambahkan, maraknya misinformasi dan disinformasi menuntut komunikasi publik dibangun di atas akurasi, integritas, dan tanggung jawab. Komunikasi empatik, menurutnya, harus menjunjung martabat setiap individu dan dibangun dengan kesantunan. “Bahasa menunjukkan bangsa… bagaimana masyarakat mampu menggunakan bahasa-bahasa empatik, ekspresi ruang publik yang santun, dan respek kepada orang lain. Itu harus kita bangun lebih luas,” ujarnya.
Pentingnya Deep Listening
Selain kemampuan menyampaikan pesan, Abdul Mu’ti menekankan pentingnya deep listening atau mendengarkan secara mendalam sebagai bagian dari komunikasi empatik. “Menjadi pembicara yang baik memang penting, tapi bagaimana menjadi pendengar yang baik, sabar mendengarkan setiap kata, memberikan respons terhadap setiap gestur, dan mengambil makna dari yang disampaikan itu tidak selalu mudah,” tuturnya.
Komunikasi Empati Jadi Fondasi
Founder dan CEO The Iconomics Bram S. Putro menegaskan bahwa tema IPRS tahun ini, “Komunikasi Empati, Narasi, dan Strategi”, merupakan respons terhadap tantangan komunikasi di era keterbukaan informasi. “Komunikasi empati bukan sekadar teknik, melainkan filosofi interaksi. Empati menjadi modal utama untuk membangun kepercayaan publik, mengelola krisis, dan menciptakan hubungan yang bermakna,” ujarnya.
