Kisah Haru ABK KM El Malika Hilang 13 Hari di Laut Akhirnya Pulang ke Indonesia

JAKARTA, Matasosial.com, 31/8 – Cerita ini dimulai dari rasa cemas yang panjang. 13 hari lamanya keluarga di Minahasa Utara menunggu kabar. Rahmad Labada, pria 31 tahun asal sana, hilang kontak di tengah laut.

Hari itu 7 Agustus 2026. Rahmad sedang menjalankan tugas menggunakan perahu bantu atau yang biasa disebut ayuda boat untuk menangkap ikan bersama KM El Malika. Tiba-tiba gelombang besar datang. Perahu yang ia tumpangi terpisah dan hanyut terbawa arus.

Banyak yang mengira yang terburuk. Tapi pada 20 Agustus 2026 kabar baik datang. Rahmad ditemukan dalam keadaan selamat di Pulau Peleliu, Republik Palau. Jauh dari tempat ia berangkat, tapi setidaknya ia masih hidup.

Setelah ditemukan, langkah pertama adalah memastikan ia sehat. Rahmad kemudian dibawa ke rumah sakit setempat dan menjalani perawatan hingga 27 Agustus 2026. Tim medis terus memantau kondisinya sampai akhirnya ia dinyatakan layak untuk pulang ke tanah air.

Di sinilah peran pemerintah mulai bergerak. Kementerian Kelautan dan Perikanan tidak tinggal diam. KKP langsung berkoordinasi dengan banyak pihak. Ada Kementerian Luar Negeri, KBRI Manila, Konsulat Kehormatan RI di Palau, Syahbandar Perikanan PPS Bitung, pemerintah daerah, sampai pemilik kapal. Semua dikerahkan agar proses pemulangan berjalan lancar. Mulai dari urusan medis, dokumen perjalanan, transportasi, sampai pendampingan.

Tanggal 28 Agustus 2026, Rahmad meninggalkan Koror, Palau menuju Manila. Di sana ia sudah ditunggu dan didampingi oleh KBRI Manila selama masa transit. Perjalanan panjang itu akhirnya membuahkan hasil pada 29 Agustus 2026 pukul 23.55 WIB. Rahmad menginjakkan kaki di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Perjalanannya belum selesai. Pada 1 September nanti ia dijadwalkan terbang lagi ke Manado. Dari sana ia akan diantar langsung sampai ke rumahnya di Kabupaten Minahasa Utara. Pelukan keluarga yang sudah lama dirindukan tinggal menghitung hari.

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Lotharia Latif menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat. Bagi pemerintah, urusan keselamatan awak kapal tidak berhenti saat nelayan sudah ditemukan.

“Kami akan terus pantau proses pemulangan, memastikan yang bersangkutan berada dalam kondisi baik dan seluruh proses kepulangannya berlangsung aman, tertib, dan lancar. Kami akan terus berkoordinasi dengan seluruh pihak sampai tiba di rumah dan kembali berkumpul dengan keluarganya,” ujarnya dalam siaran resmi KKP di Jakarta, Senin (31/8).

Kasus yang dialami Rahmad ini juga jadi pelajaran. Laut memang sumber penghidupan, tapi juga penuh risiko. Karena itu Latif kembali mengingatkan para pemilik kapal dan nahkoda.

KKP meminta agar kelaikan kapal dan perahu bantu dicek, alat komunikasi dan perlengkapan keselamatan harus ada, serta prosedur operasi wajib dipatuhi sebelum kapal berangkat melaut.

Selain itu KKP juga mendorong setiap awak kapal untuk paham betul prosedur saat keadaan darurat dan menjaga komunikasi selama melaut. Hal kecil ini bisa jadi penentu cepat atau lambatnya pertolongan datang.

Di akhir pernyataannya Latif menegaskan kembali.

“Keselamatan awak kapal harus menjadi prioritas sejak kapal meninggalkan pelabuhan hingga kembali. Kesiapan kapal, peralatan keselamatan, komunikasi, dan pemahaman terhadap prosedur keadaan darurat tidak boleh diabaikan,” tegas Latif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *