Lapang Cangehgar Disulap Jadi Kampung Bambu: Wujud Nyata Semangat Sukabumi Mubarokah

Mata Sosial Indonesia

BERITA, Lingkungan72 Dilihat

SUKABUMI — Lapang Cangehgar, Palabuhanratu, kini bertransformasi menjadi Kampung Bambu yang hidup dan penuh makna. Deru aktivitas terdengar sejak pagi, saat para pekerja merangkai bambu, menegakkan tiang, dan menata hiasan dari anyaman. Di sudut-sudut lapang, daun kelapa kering dipasang perlahan sebagai atap, menciptakan suasana teduh yang mengingatkan pada rumah tradisional Sunda.

Transformasi ini merupakan bagian dari persiapan pameran organisasi perangkat daerah (OPD) dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Sukabumi (HJKS) tahun ini. Seluruh stan dibangun dari bahan bambu atau awi—simbol yang dipilih bukan sekadar estetika, tetapi sebagai cerminan nilai-nilai lokal: sederhana, kokoh, ramah lingkungan, dan lekat dengan jati diri masyarakat Sunda.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Sendi Apriadi, menegaskan bahwa bambu bukan sekadar material bangunan, melainkan sarat filosofi.

“Bambu itu tumbuhnya cepat, namun tetap kuat dan bermanfaat. Filosofinya, awi ngajadi, memberi makna bahwa Sukabumi harus berkembang dengan tetap membawa keberkahan,” ungkap Sendi.

Lebih jauh, Sendi menyebut bahwa penggunaan bambu dalam HJKS kali ini sejalan dengan pesan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang pernah memuji kualitas bambu Sukabumi sebagai salah satu yang terbaik.

“Bahkan Gedung Pakuan yang menjadi rumah dinas Gubernur memakai bambu dari Sukabumi. Itu bukti nyata potensi lokal kita punya nilai tinggi,” tegasnya.

Memasuki area tenda pameran, suasana kampung bambu mulai terasa. Tiang-tiang bambu menjulang, lantai dari belahan awi tertata rapi, dan ornamen lokal seperti caping, kain motif tradisional, serta anyaman menghiasi sudut-sudut stan. Tanaman hias turut ditata di depan stan, memperkuat kesan alami dan menyambut hangat setiap pengunjung.

Menurut Sendi, konsep terbuka yang diusung dalam desain stan melambangkan nilai transparansi dan kedekatan.

“Kami ingin setiap pengunjung merasa dekat. Tidak ada batas yang memisahkan, semuanya bisa dilihat dan dinikmati secara bersama,” ujarnya.

Ia menambahkan, filosofi bambu yang tumbuh berumpun dan lentur menjadi gambaran ideal Sukabumi: tumbuh bersama, saling menguatkan, dan tetap adaptif dalam menghadapi tantangan.

“Tema Sukabumi Mubarokah tahun ini harus terlihat nyata, bukan hanya slogan,” kata Sendi.

Senada dengan itu, Fajar Febrian dari tim kreatif menuturkan bahwa ide penggunaan bambu berangkat dari pernyataan Gubernur.

“Pak Dedi pernah menegaskan Sukabumi punya bambu terbaik. Karena itu, untuk pameran kali ini kami menghadirkan bambu dari Jampang, Cantayan, hingga pelosok daerah lain,” tutur Fajar.

Ia menyebutkan, jumlah stan yang ikut serta mencapai sekitar 40, terdiri dari OPD hingga dunia usaha.

“Ada perbankan, ada industri, semua mendukung konsep bambu ini. Memang belum semuanya rampung, tapi suasana kampung bambu sudah mulai terasa,” tambahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *