Matasosial.com, – Cisolok, Sukabumi — Di tengah ancaman banjir yang mengintai tepian sungai, warga Desa Cikahuripan tak hanya membangun bronjong—mereka membangun harapan. Sejak pagi, warga bergandengan tangan, mengangkat batu, menyusun kawat, dan menyatukan semangat dalam kerja bakti yang bukan sekadar rutinitas, tapi ritual cinta untuk kampung halaman.
Yang terdampak dibantu oleh yang tidak. Yang muda menghormati yang tua. Yang lelah disemangati oleh tawa. Di sela peluh dan debu, hadir sosok yang tak hanya memimpin dengan suara, tapi juga dengan hati: Ibu Kepala Desa.
“Saya melihat sendiri bagaimana warga saling bergandengan tangan, saling bantu tanpa diminta. Yang terdampak banjir dibantu oleh tetangganya yang tidak terdampak, semua bergerak dengan hati. Ini bukan hanya kerja bakti, ini cinta yang nyata dari warga untuk desanya,” ucap beliau dengan mata berkaca.
Saat matahari mulai meninggi dan tenaga mulai menurun, Ibu Kades tak tinggal diam. Ia turun langsung, menyeka lelah warga dengan cara paling sederhana namun paling bermakna: makan siang penuh cinta walau dengan menu seadanya dan beralasakan kertas nasi.
“Sebagai Kepala Desa, saya merasa terharu dan bangga. Maka hari ini, saya ingin sedikit membalas peluh dan lelah mereka dengan hidangan makan siang yang kami siapkan penuh cinta. Bukan soal lauknya, tapi soal rasa kebersamaan yang membuat kita serasa satu keluarga besar,” tuturnya.
Di bawah tenda darurat, warga duduk bersila. Nasi hangat, sambal sederhana, dan sayur bening terasa seperti jamuan istimewa. Bukan karena rasanya, tapi karena bumbu persaudaraan yang menyatu di setiap suapan.
“Semoga semangat ini terus hidup di Desa Cikahuripan. Karena kalau kita saling menjaga, saling menyayangi, insyaAllah desa kita akan kuat menghadapi apapun,” tutup Ibu Kades dengan senyum yang menyatukan semua rasa.
Hari itu, Desa Cikahuripan tak hanya membangun bronjong. Mereka membangun cerita. Cerita tentang desa yang tak hanya bertahan, tapi saling menguatkan. Tentang warga yang tak hanya tinggal bersama, tapi hidup sebagai satu keluarga besar, diakhir kegiatan warga pulang untuk persiapan Shlat Jum’at.






