Petai Enak dan Sehat ala Dwi Wahyuningsih: Resep Tradisional yang Tetap Bergizi

SUKABUMI — Di tengah tren makanan modern, Dwi Wahyuningsih, warga Desa Sukamaju, Kecamatan Cikakak, tetap setia pada racikan dapur tradisional. Salah satu menu andalannya adalah petai, yang ia olah dengan cara sederhana namun tetap sehat dan menggugah selera, Senin 15 September 2025.

“Kalau bisa, ambil yang baru dipetik pagi hari dari kebun. Aromanya beda,” ujar Dwi saat menjelaskan pentingnya memilih petai segar dan utuh. Ia selalu memilih petai yang masih dalam kulit dan berwarna hijau cerah, karena menurutnya tekstur dan rasa lebih renyah serta manis.

Untuk mengurangi aroma menyengat dan rasa pahit, Dwi merendam petai dalam air hangat yang dicampur sedikit garam selama 10–15 menit. Langkah ini juga menjaga tekstur petai agar tetap baik saat dimasak.

Dalam proses memasak, Dwi menekankan penggunaan bumbu segar seperti bawang merah, bawang putih, cabai rawit, tomat, dan sedikit lengkuas. “Jangan pakai bumbu instan. Petai itu cocoknya dengan bumbu yang ditumis pelan-pelan, biar rasanya keluar,” katanya.

Agar lebih bergizi, Dwi sering memadukan petai dengan protein nabati atau hewani seperti tempe, tahu, ikan teri, telur puyuh, atau ayam suwir. “Jadi lebih lengkap gizinya, dan anak-anak pun suka,” jelasnya.

Dwi juga memperhatikan aspek kesehatan dalam penggunaan minyak. Ia memilih minyak kelapa atau minyak jagung dalam jumlah minimal. “Tumisnya jangan sampai berenang. Cukup untuk melapisi wajan saja,” ujarnya sambil tersenyum.

Untuk menambah aroma segar dan mengurangi bau khas petai, Dwi menambahkan daun kemangi atau daun jeruk di akhir proses memasak. “Aromanya jadi wangi, dan rasanya lebih segar,” katanya.

Sebagai pelengkap, Dwi menyajikan petai bersama nasi hangat dan sayur rebus seperti daun singkong atau labu siam. “Biar seimbang, ada serat dan karbohidrat. Petai jadi lauk yang lengkap,” tuturnya.

Bagi Dwi Wahyuningsih, petai bukan hanya soal rasa, tapi juga soal warisan tradisi dan gaya hidup sehat yang membumi. Di tangan ibu-ibu seperti Dwi, dapur menjadi ruang merawat keluarga dengan cita rasa lokal yang penuh manfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *