Petani Cirebon Panen Aman Saat Kemarau Berkat Pompanisasi Prabowo

Cirebon, MataSosial.Com – Di bawah terik matahari Kabupaten Cirebon, bayang-bayang kegagalan panen sempat menghantui para petani setiap kali musim kemarau panjang datang menyapa. Sumber-sumber air yang diandalkan perlahan menyusut, meninggalkan tanah persawahan yang kering dan dahaga. Situasi ini dirasakan langsung oleh para penggarap lahan di Kecamatan Arjawinangun dan Kecamatan Susukan, di mana ratusan hektare sawah seolah berjuang sendiri melawan cuaca ekstrem demi menyelamatkan asa mereka.

Harapan itu akhirnya tiba lewat uluran tangan Kementerian Pertanian melalui Program Hasil Terbaik Cepat yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program pompanisasi ini hadir sebagai penyelamat, mengalirkan air kehidupan menempuh jarak yang tidak mudah dari Sungai Rentang di Majalengka, sejauh 1.500 meter menuju petak-petak sawah warga yang sebelumnya terancam kekeringan dan gagal panen pada musim tanam kedua.

Perjuangan para petani sebelumnya memang tidak ringan. Selain harus menarik air dari jarak yang cukup jauh dengan biaya operasional yang membengkak, beban mereka semakin berat karena embung yang selama ini menjadi cadangan air mengalami kebocoran parah. Menjawab persoalan pelik tersebut, pemerintah menghadirkan teknologi pompa hibrida yang cerdas dan efisien. Mesin modern ini memanfaatkan energi surya dari panel matahari yang menyerap teriknya siang hari, sementara pada malam hari pasokan listrik mengambil alih untuk memastikan air terus mengalir tanpa henti.

Inovasi ini disambut hangat oleh Mashudi, seorang petani setempat yang merasakan langsung perubahan besar di lahannya. Ia menuturkan bagaimana peliknya situasi yang biasa mereka hadapi sebelum bantuan ini datang.

“Untuk kondisi lapangan, khususnya sawah di wilayah kami ini kan notabene tadah hujan. Untuk setiap tahunnya memang belum pernah yang namanya puso atau gagal panen. Hanya saja untuk musim tanam kedua, itu sangat besar biayanya. Karena harus mengambil air dari sungai itu sekitar 1.500 meter,” ujar Mashudi, ditulis Jumat (11/9).

Mashudi menambahkan bahwa beban tersebut semakin berlipat ganda ketika embung penampung air mengalami kerusakan. Namun, kehadiran pompa hibrida dari pemerintah seketika mengubah keadaan dengan memancarkan debit air yang begitu deras ke lahan-lahan pertanian mereka.

“Sekarang, dengan adanya bantuan dari pemerintah pusat, pompanisasi yang terbaru di 2026, yang hybrid itu alhamdulillah bisa menghasilkan air yang begitu deras,” katanya.

Kehadiran mesin berkapasitas sekitar 36 ribu liter per jam ini tidak hanya menyelamatkan tanaman padi dari ancaman kekeringan, tetapi juga menyelamatkan dompet para petani. Rencana iuran swadaya yang semula hendak mereka galang untuk membeli pompa mandiri akhirnya bisa diurungkan karena negara telah hadir memberikan solusi nyata.

“Dengan adanya pompanisasi ini, alhamdulillah yang kemarin rencananya petani itu mau memasang pompa swadaya, dan tidak jadi setelah ada bantuan ini. Alhamdulillah, terima kasih sekali,” ujar Mashudi dengan nada syukur.

Senada dengan Mashudi, rasa optimisme juga terpancar dari Kepala Desa Susukan, Saefudin Adriansyah. Ia mengenang kembali masa-masa sulit ketika wilayah Blok Kayen seluas 309 hektare harus merugi akibat kekeringan beruntun selama hampir dua tahun belakangan pada setiap musim tanam kedua.

“Kalau luas pertanian di daerah Blok Kayen, Desa Susukan, itu kurang lebih 309 hektare. Dan selama ini hampir dua tahun itu ketika musim tanam kedua memang mengalami kekeringan dan gagal panen,” ujar Saefudin.

Kini, dengan beroperasinya mesin-mesin pompa bantuan pemerintah tersebut, Saefudin menyimpan keyakinan mendalam bahwa mimpi buruk kekeringan tidak akan terulang lagi. Para petani kini bisa menyambut musim tanam pertama maupun kedua dengan dada lapang tanpa dibayangi kecemasan.

“Nah, untuk itu dengan adanya bantuan ini, insyaallah baik masa tanam satu maupun tanam dua, insyaallah air terpenuhi,” katanya.

Bagi masyarakat agraris Cirebon, aliran air yang membasahi bumi Blok Kayen dan Arjawinangun bukan sekadar cairan penawar haus bagi tanaman padi. Lebih dari itu, deru mesin pompa hibrida ini adalah simbol kepedulian nyata yang menjaga dapur tetap ngebul, menekan biaya operasional yang tadinya mencekik, serta memastikan lumbung pangan tetap produktif di tengah hantaman musim kemarau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *