Bandung, – Kampung Lamajang Peuntas Desa Citeureup Kecamatan Dayeuhkolot, merupakan Sebuah tempat yang kerap disebut-sebut ketika banjir datang, namun saat ini warganya perlahan bangkit dengan caranya sendiri, dengan kekuatannya sendiri memperlihatkan jati diri.
Di sinilah kisah perubahan dimulai. Bukan lewat program besar, bukan oleh pejabat tinggi. Tapi oleh seorang tokoh yang berjalan bersama rakyatnya, membangun bukan hanya jalan, tapi juga kepercayaan: Tri Rahmanto.
Lebih dari Sekadar Pembangunan Fisik
Ia memahami bahwa membangun kampung tak cukup dengan semen dan batu. Maka ia turun langsung ke lapangan memimpin perbaikan gang rusak, memasang bronjong untuk memperkuat bantaran Sungai Cigede, hingga memastikan warga tetap punya akses aman meski banjir menerjang.
Namun yang membuatnya benar-benar berbeda adalah visinya terhadap pembangunan jiwa manusia.
Tak hanya itu, kiprahnya pun menginspirasi kalangan akademisi. Mahasiswa dari Telkom University turut tergerak mengikuti jejak langkah Tri dalam aksi sosial.
Mereka hadir di tengah masyarakat, bekerja bersama warga, dan berkolaborasi dalam berbagai kegiatan pengembangan kampung yang digerakkan olehnya.
Tri membuka ruang bagi pengembangan potensi warga, khususnya di bidang kewirausahaan berbasis keterampilan. Ia memfasilitasi pelatihan kerajinan tangan berbahan kayu, membangun semangat berkarya, dan menumbuhkan kemandirian ekonomi dari dalam kampung itu sendiri.
“Bukan sekadar memberi bantuan, tapi membuka jalan agar mereka bisa berdiri sendiri,” katanya.
Tak banyak pemimpin masyarakat yang mampu menjadikan gotong royong sebagai kekuatan sosial yang nyata. Namun Tri Rahmanto melakukannya.
Ia tak hanya memanggil warga untuk kerja bakti di tetapi ia membuat mereka merasa memiliki kampung ini.
Di Lamajang Peuntas, gotong royong bukan sekadar tradisi Sunda yang diceritakan di buku tapi hidup dan bernapas dalam keseharian.
Dampak yang Terasa, Bukan Sekadar Tercatat
Kini, wajah Lamajang Peuntas perlahan berubah. Masih ada banjir, masih ada tantangan. Tapi ada pula harapan, ada semangat baru, dan ada tokoh yang terus berdiri di barisan depan untuk warganya.
Kampung ini mungkin kecil di atas peta. Tapi dalam hati masyarakat yang tinggal di dalamnya, Lamajang Peuntas adalah tempat yang besar karena dari sinilah tumbuh keyakinan bahwa pembangunan sejati berawal dari kebersamaan dan kepedulian.***
jaelani
