NAGEKEO, matasosial.com – Lapangan Berdikari mendadak hidup pada Rabu, 26 Agustus 2026. Di dalam tenda pengungsian, suara riuh muncul begitu Presiden Prabowo Subianto melangkah masuk. Warga berkerumun. Ada yang mengeluarkan ponsel untuk merekam, ada pula anak-anak kecil yang menyelip di sela orang dewasa agar bisa melihat lebih dekat.
Tidak ada sekat formalitas di sana. Tangan-tangan terulur menyambut. Beberapa warga menjabat tangan, sebagian memeluk. Seorang anak perempuan berdiri paling dekat dengan Kepala Negara, tersenyum lebar. Anak-anak lain ikut mendekat, mata mereka penuh tanya dan penasaran.
Kunjungan itu sejatinya untuk meninjau kondisi warga Nagekeo pascagempa. Namun suasana di dalam tenda membuat agenda kenegaraan berubah menjadi pertemuan yang hangat. Presiden berhenti di tiap barisan. Ia menyapa satu per satu, berbincang, lalu mengeluarkan mainan dari kantong dan membagikannya.
Tangan-tangan kecil berebut dengan tertib. Mainan berpindah dari tangan Presiden ke tangan anak-anak. Di tengah tenda yang selama beberapa hari jadi rumah sementara, senyum itu mengubah udara. Untuk beberapa menit, tenda pengungsian terasa lebih ringan.
Gempa 7,7 magnitudo pada 15 Agustus 2026 mengubah semua dalam sekejap. Rumah harus ditinggal. Sekolah dan tempat bermain ikut terhenti. Sejak itu tenda menjadi tempat makan, tidur, berkumpul dengan teman, dan menunggu keadaan aman.
Karena itu anak-anak jadi perhatian utama dalam pemulihan. Di lokasi pengungsian, relawan dan pemerintah menyiapkan ruang agar mereka tetap bisa bermain, menggambar, dan berinteraksi. Tujuannya sederhana: memberi jeda dari tekanan setelah bencana.
Di hadapan para pengungsi, Presiden Prabowo menyampaikan rencana untuk menghidupkan kembali kegiatan belajar.
“Sudah kita siapkan perbaikan-perbaikan, langkah-langkah sementara supaya sekolah bisa segera buka, segera kita jalankan mungkin untuk keamanan, sekolah-sekolah mungkin di tenda dulu,” ujar Presiden.
Kehadiran Kepala Negara membuat hari itu berbeda. Orang dewasa menyampaikan kebutuhan dan harapan. Anak-anak punya cara mereka sendiri: mendekat, tersenyum, meminta mainan, dan tertawa.
Sebelum itu, Presiden memimpin rapat untuk mendengar laporan penanganan pascabencana. Ia menekankan agar semua proses berjalan cepat, dari masa darurat hingga rehabilitasi dan rekonstruksi.
Pemulihan, menurut Presiden, tidak cukup berhenti pada penyaluran bantuan. Warga harus bisa kembali hidup aman, ekonomi berjalan, layanan kesehatan tersedia, rumah dibangun kembali, dan anak-anak bisa kembali ke sekolah.
“Percayalah, pemerintah tidak akan membiarkan saudara sendiri. Kita hadir dan kita akan terus membantu saudara-saudara,” lanjut Presiden.
Di Nagekeo, duka belum selesai. Tapi dari tenda pengungsian itu muncul hal kecil yang penting: tawa anak-anak. Tawa itu tidak menghapus luka, tetapi mengingatkan bahwa hidup perlahan bergerak lagi dan harapan untuk bangkit masih ada.
