Tina Wiryawati Jadi Ibu Angkat Padepokan Cimande dan Riung Gunung Kuningan

DPRD87 Dilihat

Matasosial.com – KUNINGAN, Minggu 13 September 2026 – Minggu siang warga Kuningan berkumpul di satu titik. Suasana ramai. Anak-anak berlatih silat. Kendang ditabuh. Di tengah kegiatan itu, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Hj. Tina Wiryawati, SH., MM. hadir langsung.

Ia datang untuk Sapa Budaya Bersama Warga. Selain itu ia ingin mendengar langsung keluh kesah para pegiat budaya. Sebab menurutnya, tradisi harus kita jaga bersama agar tidak hilang.

Tina Wiryawati Temui Komunitas Cimande dan Riung Gunung

Dalam pertemuan itu Tina bertemu dua komunitas. Pertama Padepokan Cimande Kabupaten Kuningan atau PPCA Awirarangan. Kedua Padepokan Riung Gunung dari Kadugede.

Kedua padepokan ini aktif membina anak muda. Mereka ajarkan pencak silat, musik tradisional, dan nilai luhur Kuningan. Karena itu Tina memberikan apresiasi tinggi kepada para pelatih.

Ia juga melihat proses latihan secara langsung. Anak-anak semangat. Mereka praktik jurus dan menghafal filosofi. Kemudian Tina berbincang dengan para pembina.

Lebih lanjut Tina menegaskan bahwa menjaga budaya butuh aksi nyata. Kita tidak bisa hanya bicara. Kita harus turun dan mendukung.

Mang Dadawuk Sampaikan Apresiasi ke Tina

Salah satu pegiat dari Padepokan Riung Gunung, Deni Darmadi atau Mang Dadawuk, ikut bicara. Ia merasa senang karena aspirasinya langsung direspons.

Menurut Deni, pegiat budaya di desa sering kesulitan menjangkau wakil rakyat. Namun kali ini berbeda.

“Alhamdulillah, saya tidak muluk-muluk. Di HP saya banyak nomor anggota dewan, tapi ketika saya sampaikan keluhan, beliau (Bunda) yang langsung merespons dan menjawab,” ungkap Deni.

Selain itu Deni juga menceritakan bentuk dukungan yang sudah ia terima. Ketika padepokan butuh alat peraga latihan, Tina langsung membantu. Padahal sarana itu sangat penting untuk pembinaan.

“Bunda mengerti dan mengangkat derajat kami. Kami berjuang bukan karena kami ahli, tapi kami berusaha mempertahankan budaya yang ada di Kabupaten Kuningan,” katanya.

Deni pun menegaskan tujuan utama mereka. Mereka ingin membina mental anak-anak.

“Tujuan utamanya adalah membina mental anak-anak agar mereka tidak lupa dengan budaya kita sendiri,” tambahnya.

Tina Wiryawati Resmi Jadi Ibu Angkat Padepokan

Di akhir acara suasana semakin hangat. Para pegiat budaya memberikan penghargaan kepada Tina. Mereka mengukuhkan Tina sebagai Ibu Angkat Padepokan Cimande PPCA Kabupaten Kuningan dan Padepokan Riung Gunung.

Tina menerima dengan senang hati. Ia berjanji akan terus memperjuangkan nasib para seniman. Baik di DPRD Jabar maupun di pusat.

Dengan begitu, diharapkan aspirasi komunitas budaya bisa lebih cepat sampai ke pengambil kebijakan.

Jangan Biarkan Budaya Kita Punah

Tina juga menyampaikan keprihatinan. Saat ini banyak anak muda lebih tertarik budaya luar. Padahal budaya sendiri mulai ditinggalkan.

Oleh karena itu ia mengajak semua pihak bergerak. Pemerintah harus mendukung. Sekolah harus mengenalkan. Keluarga harus mencontohkan.

“Jangan sampai kearifan lokal dan tradisi budaya kita lenyap, malah lebih dilestarikan oleh orang asing. Pengenalan tradisi budaya kepada generasi muda ini sangat penting,” ujar Tina.

Ia menambahkan, budaya adalah jati diri. Jika kita kehilangan budaya, maka kita kehilangan arah. Karena itu pengenalan sejak dini sangat penting.

Padepokan menjadi tempat yang tepat. Di sana anak-anak belajar disiplin. Mereka juga belajar menghormati guru dan mencintai daerah.

Wariskan Tradisi Agar Tetap Hidup

Ke depan Tina berharap muncul lebih banyak padepokan. Ia ingin anak muda Kuningan bangga dengan budayanya.

Untuk itu diperlukan kolaborasi. Wakil rakyat harus turun. Seniman harus terus berkarya. Pemerintah harus hadir dengan program.

Apabila semua pihak bergerak bersama, maka warisan budaya Kuningan akan aman. Budaya tidak akan tergerus zaman.

Lebih dari itu, pelestarian budaya juga membentuk karakter. Anak muda akan tumbuh dengan prinsip. Mereka tidak akan tercerabut dari akar.

Acara ditutup dengan pertunjukan anak padepokan. Warga bertepuk tangan. Mereka senang karena ada pejabat yang mau mendengar.

Dengan kegiatan ini Tina kembali menegaskan satu hal. Budaya bukan beban masa lalu. Budaya adalah bekal masa depan yang wajib kita wariskan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *