Qodari Beberkan KRI Sriwijaya 100 Bisa Juga Untuk Penanganan Bencana

BERITA54 Dilihat

Matasosial.com, Jakarta – 28 September 2026 – Indonesia resmi memiliki kapal induk pertama. Kapal tersebut bernama KRI Sriwijaya-100 dan kini menjadi bagian dari kekuatan TNI Angkatan Laut. Kehadiran kapal ini menjadi bagian penting dalam penguatan kemampuan pertahanan laut nasional.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah atau Bakom RI Muhammad Qodari menjelaskan, KRI Sriwijaya-100 tidak hanya berfungsi untuk pertahanan. Presiden Prabowo Subianto mengarahkan agar kapal induk tersebut juga mendukung penanganan bencana dan misi kemanusiaan.

Prabowo Perintahkan Modifikasi Untuk Misi Kemanusiaan

Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan khusus dalam Rapat Kabinet Terbatas mengenai penanganan bencana pada Senin 7 September lalu. Presiden meminta agar KRI Sriwijaya-100 dimodifikasi agar mampu mendukung pengoperasian helikopter dan drone.

“Kemampuan tersebut diprioritaskan untuk mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP), khususnya penanggulangan bencana dan misi kemanusiaan,” kata Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, dalam pernyataannya, Senin (28/9).

Qodari menilai Indonesia sebagai negara kepulauan dengan wilayah luas dan geografis beragam membutuhkan kemampuan mobilitas cepat. Kekuatan pertahanan harus menjawab karakter dan tantangan nasional.

Penguatan KRI Sriwijaya-100 memiliki makna lebih besar dari sekadar modernisasi alat utama sistem persenjataan atau alutsista.

“Ini adalah bagian dari upaya membangun Indonesia yang semakin kuat, mandiri, tangguh, dan siap melindungi rakyat dalam setiap keadaan,” ucap Qodari.

KRI Sriwijaya-100 Jawab Tantangan Bencana Indonesia

Indonesia menghadapi berbagai risiko bencana. Mulai dari gempa bumi, banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, hingga berbagai keadaan darurat lain.

Qodari menjelaskan tantangan penanganan bencana bukan hanya soal ketersediaan bantuan. Tantangan terbesar adalah distribusi bantuan, personel, dan kebutuhan pokok agar cepat sampai kepada masyarakat terdampak, terutama saat akses jalan, jembatan, pelabuhan, atau fasilitas lain mengalami gangguan.

“Dalam situasi seperti itu, tantangannya bukan hanya menyediakan bantuan. Tantangan berikutnya adalah bagaimana bantuan, personel, dan kebutuhan pokok dapat segera sampai kepada masyarakat yang membutuhkan, terutama ketika jalan, jembatan, pelabuhan, atau fasilitas lainnya mengalami gangguan. Di sinilah KRI Sriwijaya-100 dapat memberikan manfaat nyata,” Qodari menerangkan.

Dengan kemampuan mendukung pergerakan helikopter serta membawa dan menyalurkan berbagai kebutuhan, KRI Sriwijaya-100 dapat menjadi sarana untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses melalui jalur darat.

Hal ini sejalan dengan tugas pertahanan Indonesia yang tidak hanya fokus pada ancaman militer, tetapi juga pada operasi militer selain perang termasuk penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan.

“Dengan demikian, kehadiran KRI Sriwijaya-100 tidak hanya berbicara mengenai bertambahnya kemampuan pertahanan maritim Indonesia. Kapal ini juga dipersiapkan untuk memperkuat kemampuan negara dalam merespons keadaan darurat dan membantu masyarakat ketika mereka membutuhkan,” tutup Qodari.

Sumber: Press Release Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *