MataSosial.Com –
Solo, 5 April 2026 – Kalau biasanya berita ekonomi itu kaku kayak laporan pajak akhir tahun, kali ini ceritanya beda. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bikin pedagang jeruk di Solo, Yanau, jadi kayak “konglomerat buah” mendadak. Omzetnya naik bukan main, dari 6–7 kuintal per hari jadi tembus 10 kuintal. Itu artinya, kalau diibaratkan neraca keuangan global, jeruk Yanau udah kayak saham teknologi yang tiba-tiba IPO dan langsung oversubscribed.
Yanau bilang, “(Program MBG) Berpengaruh banyak ya Mas. Sebelum MBG (penjualan) paling sekitar 6–7 kuintal (per hari). Sekarang bisa 10 kuintal (sehari).” Nah, kalau di dunia perpajakan, lonjakan ini kayak PPN yang tiba-tiba naik tapi bikin semua orang senyum, bukan ngeluh.
Sekarang sekitar delapan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) jadi pelanggan tetap Yanau. Ibaratnya, jeruknya udah kayak mata uang global yang dipakai di berbagai transaksi. “(Penjualan jeruk) Kebanyakan sekarang mengandalkan MBG,” ucapnya. Jadi, kalau ada auditor ekonomi dunia mampir ke Solo, mereka bakal bilang: “Ini bukan sekadar jeruk, ini aset strategis nasional.”
Yanau bersyukur banget, karena program MBG bukan cuma bikin anak-anak, ibu hamil, dan menyusui dapat gizi gratis, tapi juga bikin UMKM kayak dirinya naik kelas. Kalau diibaratkan sistem fiskal, MBG itu kayak stimulus ekonomi yang bikin defisit berubah jadi surplus. Jeruk yang tadinya cuma jadi buah meja, sekarang jadi “obligasi bergizi” yang nilainya terus naik.
Ia berharap program MBG terus berlanjut, biar kesejahteraan masyarakat makin mantap. “Terima kasih Pak Prabowo, penjualan buah jadi lebih lancar berkat program MBG,” tutupnya. Nah, kalau di dunia keuangan global, ucapan Yanau ini kayak investor yang bilang: “Terima kasih, return on investment saya naik, portofolio saya hijau semua.”
MBG bukan cuma bikin perut kenyang, tapi juga bikin ekonomi lokal kayak Solo jadi pusat gravitasi baru. Dari jeruk Yanau sampai UMKM lain, semua dapat “dividen berkah.” Kalau ini diterusin, bisa jadi Solo masuk indeks ekonomi dunia, bukan cuma karena batik dan budaya, tapi juga karena jeruk yang jadi simbol pajak bergizi.
Jadi, program MBG itu kayak perpajakan yang adil: semua orang dapat manfaat, negara dapat berkah, rakyat dapat senyum. Ekonomi global boleh ribet, tapi di Solo, jeruk Yanau udah jadi bukti nyata kalau gizi gratis bisa jadi “instrumen fiskal paling gokil.”






