Matasosial.Com – Sukabumi – Sekedar info, rencana Tol Jagoratu ini memang udah kayak bikin film kolosal dengan budget unlimited: Jakarta, Bogor, Palabuhanratu disambungin jadi satu jalur super highway yang katanya bakal bikin ekonomi ngebut kayak roket NASA, bikin wisata naik kelas kayak upgrade dari warung kopi ke lounge bandara, dan bikin logistik ngalir kayak sungai Citarum pas lagi banjir. Dan ini bukan sekadar wacana di atas kertas—udah terbukti sekarang jalurnya udah sampai Parungkuda. Jadi bayangin aja, kalau proyek ini terus berlanjut, Sukabumi bisa jadi pusat gravitasi ekonomi baru, kayak magnet raksasa yang narik wisatawan, pedagang, sampai investor. Optimisnya, Sukabumi Mubarokah bakal makin terasa: berkah pembangunan, berkah wisata, berkah ekonomi, semua ngalir kayak reaksi kimia yang sukses di lab tanpa ada ledakan.
Namun, pas rame ada ide tol gate nongol di Palabuhanratu, saya langsung pasang alarm darurat kayak sirine mobil pemadam kebakaran: NOPE, tolak keras! Karena kalau tol gate dipasang di situ, provinsi harus bikin jalan alternatif. Ribetnya bukan main, kayak bikin labirin di Minecraft tapi pakai anggaran daerah yang udah tipis kayak kerupuk kena kuah. Jalurnya panjang: Cikidang → Cimanggu → Gunung Tankil → Cikakak → Cisolok → perbatasan Banten. Jalur ini memang strategis, tapi kalau dipaksain, bisa bikin kepala Pemda cenat-cenut kayak habis minum kopi tanpa gula.
Anggaran untuk proyek sebesar itu jelas harusnya keluar dari provinsi atau bahkan nasional. Kalau dipaksa pakai APBD Sukabumi, khususnya PAD pariwisata, bisa bikin pemkab pusing tujuh keliling kayak orang main komidi putar nggak berhenti-berhenti. Apalagi sekarang pemkab lagi jungkir balik ngurusin infrastruktur yang top urgent pasca bencana, kayak dokter bedah yang harus operasi pasien darurat sambil listrik mati. Kalau ditambah beban bikin jalan alternatif tol gate Palabuhanratu, bisa-bisa APBD Sukabumi jadi kayak dompet anak kos di akhir bulan: kosong melompong, tinggal doa dan harapan.
Jika masih dipandang perlu untuk pasang tol gate, dengan semangat Sukabumi Mubarokah, saya optimis kalau tol gate diarahkan ke Ujung Genteng, berkahnya bakal lebih terasa. Wisata pantai dan penyu bisa jadi magnet ekonomi, masyarakat nggak terbebani, dan PAD pariwisata bisa dipakai buat hal-hal yang benar-benar urgent. Jadi bukan sekadar proyek tol yang bikin headline, tapi pembangunan yang bikin rakyat senyum lebar kayak dapet THR dobel.
Nah, saran saya jelas: tol gate lebih cocok ditempatkan di Ujung Genteng.
- Di sana bukan jalur provinsi, jadi nggak ganggu arus utama.
- Wisata pantai dan penyu bisa jadi booming, ekonomi lokal meledak kayak pesta kembang api malam tahun baru.
- Lokasi pariwisata lebih efisien untuk di pasang tol gate, nggak perlu bikin jalan alternatif yang ribet.
- Lalu lintas lebih seimbang, kayak orkestra yang main kompak tanpa fals.
Semangat Sukabumi itu Mubarokah—berkah, harapan, masa depan cerah. Kalau tol gate ditempatkan di Ujung Genteng, berkahnya bisa lebih terasa: wisata naik, ekonomi lokal hidup, masyarakat nggak terbebani. Itu baru pembangunan yang mubarokah, bukan proyek yang bikin rakyat jadi korban eksperimen gagal.
Bayangin kalau semangat Mubarokah ini dijalankan: Sukabumi jadi pusat berkah, bukan pusat masalah. Jalan tol bukan cuma jalur aspal, tapi jalur keberkahan. Ujung Genteng bisa jadi katalis ekonomi baru, Palabuhanratu tetap jadi jalur utama tanpa hambatan, dan rakyat bisa menikmati hasil pembangunan dengan penuh keberkahan.
Intinya, saya sebagai penulis artikel ini tegas: menolak tol gate di Palabuhanratu. Dengan semangat Sukabumi Mubarokah, saya dorong agar tol gate ditempatkan di Ujung Genteng—biar berkahnya ngalir dengan relevan, PAD pariwisata tertata maksimal, dan program leluhur Tol Jagoratu berjalan sesuai progresnya, kayak film kolosal yang akhirnya selesai semua episodenya dengan happy ending.
Jadi PAD pariwisata tertata dengan maksimal dan juga program leluhur Tol Jagoratu berjalan sesuai progres, seperti film kolosal yang selesai semua episodenya dengan tuntas, jalan alternatif pun terbangun sesuai blueprint yang matang. Itulah Sukabumi Mubarokah… Aamiin.






