Prabowo dan Politik ala Prabu Siliwangi: Kepemimpinan yang Mengayomi, Bukan Menguasai

OPINI171 Dilihat

Oleh: Ruslan Raya Matasosial

Cikakak, Rabu 12/11/2025

Dalam dinamika politik global yang semakin kompleks, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto tampil dengan gaya kepemimpinan yang mengingatkan kita pada sosok legendaris Nusantara: Prabu Siliwangi. Bukan karena gelar atau simbol, melainkan karena watak kepemimpinan yang menggabungkan ketegasan, spiritualitas, dan pengayoman.

Prabu Siliwangi dikenal sebagai raja yang tidak hanya memerintah, tetapi menyatu dengan rakyat dan alam. Ia memimpin dengan wibawa, tapi juga dengan kelembutan dan kebijaksanaan. Dalam banyak gestur dan kebijakan, Prabowo menunjukkan bahwa ia tidak sekadar mengelola negara, tetapi menghidupi semangat kepemimpinan yang berakar pada tradisi dan jiwa Nusantara.

Diplomasi yang Berjiwa, Bukan Sekadar Strategi

Dalam kunjungan kenegaraan ke Australia, Prabowo menyampaikan filosofi tetangga yang baik, menyebut pepatah Indonesia tentang kedekatan dan saling bantu. Ini bukan sekadar diplomasi, melainkan politik yang berjiwa, yang melihat hubungan antarnegara sebagai hubungan antar manusia.

“Tetangga yang baik akan saling membantu di masa sulit… Mungkin saudara kita akan tetap jauh, tetapi tetangga kita adalah yang paling dekat,” ucap Prabowo.

Pernyataan ini mencerminkan nilai kepemimpinan Prabu Siliwangi: bahwa kekuasaan bukan untuk mendominasi, melainkan untuk melindungi dan menyatukan.

Kepemimpinan yang Menyatu dengan Simbol dan Spirit

Prabowo kerap tampil dalam simbol-simbol kenegaraan yang kuat—dari inspeksi pasukan hingga peninjauan kapal perang. Namun di balik itu, ia menyisipkan candaan ringan, seperti saat menyebut bagpipe sebagai alat musik favoritnya. Ini menunjukkan keseimbangan antara wibawa dan kehangatan, antara protokol dan kemanusiaan.

Seperti Prabu Siliwangi yang dikenal mampu meredam konflik dengan kebijaksanaan, Prabowo juga menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal perintah, tapi soal kehadiran dan keteladanan.

Dari Strategi ke Spirit: Dua Sayap Kepemimpinan

Kebijakan luar negeri Prabowo menunjukkan bahwa ia tidak hanya bermain di level taktik, tapi juga membangun narasi strategis jangka panjang. Ia bicara tentang stabilitas Indo-Pasifik, penguatan industri strategis, dan kemitraan sejajar. Semua ini bukan sekadar diplomasi, tapi visi geopolitik yang berakar pada kemandirian dan kehormatan.

Dalam semangat Prabu Siliwangi, pemimpin harus mampu membaca angin global, tapi tetap berpijak pada tanah leluhur. Prabowo tampaknya menghidupi prinsip ini—menggabungkan ketajaman militer dengan kelembutan budaya, serta ketegasan negara dengan kehangatan rakyat.

Penutup: Kepemimpinan yang Menyatu dengan Rakyat dan Alam

Prabowo bukan raja, tapi ia memimpin dengan jiwa seorang pemimpin kerajaan yang demokratis. Ia tidak hanya mengatur, tapi juga mengayomi dan menghidupi nilai. Dalam era politik yang sering kehilangan arah, gaya ala Prabu Siliwangi ini menjadi pengingat bahwa kekuasaan sejati bukan soal kontrol, tapi soal tanggung jawab spiritual dan sosial.

Sebagai warga, kita tentu berharap bahwa gaya ini bukan hanya gestur, tapi menjadi roh dalam kebijakan, menjadi jiwa dalam pembangunan, dan menjadi cahaya dalam hubungan antarbangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *