Cisolok, Sukabumi — 18 September 2025 Forum edukasi bertema “Hutan Lindung sebagai Sumber Kehidupan dan Keberkahan” yang digelar di Desa Cikahuripan bukan hanya menjadi ruang diskusi teknis, tetapi juga panggung bagi suara hati warga yang terdampak langsung oleh kerusakan lingkungan. Salah satu anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Cikahuripan menyampaikan pandangannya dalam sesi tanya jawab, dengan nada emosional yang menggugah seluruh peserta.
Ia mengaku pertama kali mengetahui kegiatan dugaan terkait aktivitas di hutan lindung melalui video yang beredar di status WhatsApp. Saat itu, ia masih berada di Jakarta, dan reaksi pertamanya adalah kemarahan.
“Marah saya, Pak. Karena saya adalah orang yang paling kena dampak. Mereka tertawa, menghasilkan cuan dari semua yang mereka lakukan di pinggir kali dulu. Saya lihat itu, dan saya tahu itu sudah melanggar hukum,” ungkapnya dengan suara bergetar.
Pernyataannya bukan sekadar keluhan, melainkan seruan moral yang menyoroti pentingnya menjaga sumber daya alam, terutama air. Ia mengingatkan bahwa dampak kerusakan lingkungan bukan hanya dirasakan hari ini, tetapi akan menghantui masa depan anak cucu jika tidak segera ditangani.
“Yang harus dijaga itu air, Pak. Air yang kita butuhkan. Gimana kalau musim kemarau? Ini bukan untuk hari ini saja, tapi untuk masa yang akan datang. Anak cucu kita mungkin tidak akan merasakan lagi,” ujarnya.
Dengan mata berkaca-kaca, ia menutup pernyataannya dengan kesaksian yang menyentuh hati:
“Saya di sini nangis, karena saya yang paling terkena dampak dari kerusakan hutan.”
Pernyataan ini menjadi titik balik dalam forum, mengubah suasana dari diskusi teknis menjadi refleksi kolektif. Suara warga tersebut mempertegas bahwa pelestarian lingkungan bukan hanya urusan regulasi, tetapi juga soal keadilan dan keberlangsungan hidup.
