Dapur Bergizi, Ekonomi Bangkit: Bupati Bandung Dapat Apresiasi Langsung dari Kepala BGN

Mata Sosial Indonesia

MBG112 Dilihat

Bandung,- Di tengah semangat membangun negeri dari dapur-dapur kecil yang menyala harapan, Kecamatan Pameungpeuk menjadi saksi bisu pertemuan dua sosok yang tak hanya bicara program, tapi juga tentang keberpihakan dan ketulusan. Selasa, 9 September 2025, langit Kabupaten Bandung seolah ikut menyambut langkah Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Prof. Dadan Hindayana, yang melakukan monitoring dan kunjungan ke Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Pameungpeuk.

Kunjungan itu bukan sekadar seremonial. Di sana, Prof. Dadan didampingi langsung oleh Bupati Bandung Dadang Supriatna, Sekda Cakra Supriatna, Satgas MBG Kabupaten Bandung, sejumlah kepala OPD, dan tamu undangan lainnya. Namun yang paling menyentuh bukan jumlah pejabat yang hadir, melainkan semangat yang terpancar dari seorang bupati yang disebut “paling bawel” oleh Kepala BGN—bukan sebagai celaan, tapi sebagai pujian yang jujur dan penuh makna.

“Pak Bupati Dadang Supriatna ini semangatnya sangat luar biasa. Terus terang saya sangat mengapresiasi kepada kepala daerah yang proaktif dan begitu semangat seperti Pak Bupati Bandung,” ujar Prof. Dadan dalam sambutannya.

Semangat itu bukan retorika. Ia tercermin dari progres nyata: dapur-dapur SPPG yang terus dibangun dan dioperasikan. Prof. Dadan optimistis seluruh dapur MBG di Kabupaten Bandung akan siap beroperasi pada akhir November 2025. Bahkan, ia menyebut dapur-dapur di Bandung sebagai salah satu yang terbaik dan memenuhi berbagai kriteria BGN.

“Bupati Bandung ini adalah salah satu kepala daerah yang paling bawel. Hampir tiap hari beliau WA saya. Telepon saya, dua sampai tiga kali sehari terus bertanya dan mendorong kesuksesan program MBG di Kabupaten Bandung. Saya sangat senang ada Bupati seperti ini, karena sebetulnya kita yang butuh dukungan Bupati,” tuturnya.

Di saat beberapa daerah masih tertatih, Kabupaten Bandung melaju dengan percepatan. Dari 361 dapur yang direncanakan, 90 telah beroperasi. Sisanya ditargetkan menyusul pada awal Desember. Di balik angka-angka itu, ada tekad yang tak kenal lelah.

Program MBG bukan hanya soal gizi. Ia adalah denyut ekonomi baru di desa-desa. Prof. Dadan menjelaskan bahwa satu dapur SPPG akan menerima Rp10 miliar per tahun, 85 persen di antaranya untuk bahan baku yang dibeli dari petani dan masyarakat setempat. Di Kabupaten Bandung saja, potensi perputaran uang mencapai Rp5 triliun per tahun.

“Artinya ini peluang ekonomi untuk masyarakat. Masyarakat harus digerakkan untuk menangkap peluang ini. Sayang kalau Rp5 triliun malah dibelanjakan bahan baku dari daerah lain,” jelas Kepala BGN.

Pasokan bahan baku harus dikoordinir oleh Koperasi Merah Putih. Maka, Bupati Dadang Supriatna tak hanya membangun dapur, tapi juga membentuk pendamping koperasi agar sistem berjalan lancar dan berkelanjutan.

“Saya sangat berterima kasih karena Kepala BGN Prof Dadan ini sesibuk apapun selalu diangkat kalau saya telepon. Mohon maaf saya hanya ingin menyukseskan program Pak Presiden,” ujar Kang DS, sapaan akrab sang bupati.

“Mari kita sukseskan program Pak Presiden ini. Semoga program ini terus berkelanjutan karena ini sangat bagus untuk menggerakkan perekonomian daerah dan manfaatnya untuk menyiapkan generasi emas dan pemimpin masa depan,” tegasnya.

Di Pameungpeuk, dapur bukan sekadar tempat memasak. Ia adalah simbol perlawanan terhadap kelaparan, ketimpangan, dan stagnasi ekonomi. Dan di sana, semangat seorang bupati bertemu dengan visi seorang profesor. Di sana, Sukabumi Mubarokah menemukan cerminnya: bahwa keberkahan bukan hanya soal doa, tapi juga tentang kerja nyata dan keberpihakan yang tak kenal lelah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *